Rabu, 03 April 2013

PENDEKATAN PENGELOLAAN KELAS (Managerial, Psikologikal dan Sistem)



BAB II
PEMBAHASAN
A.  Pengertian Pendekatan dalam Pengelolaan Kelas
Pendekatan pembelajaran diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang dalam proses pembelajaran yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang bersifat umum. Adapun pendekatan merupakan unsur penting yang harus dikuasai pengajar sebelum mempersiapkan perencanaan pembelajaran.[1]
Sebagai pekerja profesional, seorang guru harus mendalami kerangka acuan pendekatan-pendekatan kelas, sebab di dalam penggunaannya ia harus terlebih dahulu meyakinkan bahwa pendekatan yang dipilihnya untuk menangani sesuatu kasus pengelolaan kelas merupakan alternatif yang terbaik sesuai dengan hakikat masalahnya. Artinya seorang guru terlebih dahulu harus menetapkan bahwa penggunaan sesuatu pendekatan memang cocok dengan hakikat masalah yang ingin ditanggulangi. Ini tentu tidak dimaksudkan mengatakan bahwa seorang guru akan berhasil baik setiap kali ia menangani kasus pengelolaan kelas. Sebaliknya, keprofesionalan cara kerja seorang guru adalah demikian sehingga apabila alternatif tindakannya yang pertama tidak memberikan hasil sebagaimana yang diharapkan, maka ia masih mampu melakukan analisis ulang terhadap situasi untuk kemudian tiba pada alternatif pendekatang yang kedua, dan seterusnya.[2]
Cara kerja semacam ini berbeda sekali dengan pendekatan seorang tukang, juga di kalangan pendidikan, misalnya yang menggantungkan diri pada resep-resep, misalkan dalam bentuk aturan umum tentang apa yang harus dan apa yang tidak boleh dikerjakan (daftar do’s dan don’ts seperti “selalulah bersikap adil”, “suara harus tetap tenang dikala memarahi murid”, marahilah murid di bawah empat mata” dan yang semacamnya). Seorang pekerja pendidikan yang menggantungkan diri pada “buku resep” macam ini akan segera kehilangan akal apabila suatu dalil yang ia terapkan ternyata tidak memberi hasil sebagaimana diharapkan.
Ada sejumlah konsep tentang pengelolaan kelas, sebagian diantaranya tidak lagi dianggap memadai, misalnya pandangan otoriter yang melihat pengelolaan kelas semata-mata sebagai upaya untuk menegakkan tata tertib, atau pandangan permisif yang memusatkan perhatian pada usaha untuk memaksimalkan kebebasan murid. Di dalam uaian ini akan dikemukakan tiga pandangan yang nampaknya member harapan, baik dari penalarannya maupun berdasarkan informasi yang diperoleh melalui penelitian-penelitian.

B.  Pendekatan Managerial
Pendekatan Managerial atau lebih umum dengan istilah pendekatan manajemen adalah sebuah pendekatan yang bersifat sistematis, karena pengelolaannya yang teratur dalam melibatkan unsur-unsur yang terpadu didalam proses pembelajaran.
Pengelolaan kelas merupakan salah satu kegiatan yang perlu dipersiapkan sedemikian rupa untuk mendukung pembelajaran aktif. Dalam buku Pendekatan Keterampilan Proses, Prof. Dr. Cony Semiawan, dkk. Membagi pengelolaan kelas menjadi tiga bagian, yaitu: 1) pengaturan kelas, 2) pengelompokan siswa melayani kegiatan belajar mengajar, dan 3) tutor sebaya.[3]
1.      Pengaturan Kelas
Tugas utama guru adalah menciptakan suasana di dalam kelas agar terjadi interaksi belajar yang dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik dan sungguh-sungguh. Untuk itu guru seyogyanya memiliki kemampuan untuk melakukan interaksi belajar mengajar yang baik. Salah satu kemampuan yang sangat penting adalah kemampuan mengatur kelas.
Untuk menciptakan suasana yang dapat menumbuhkan gairah belajar, meningkatkan prestasi belajar siswa, dan lebih memungkinkan guru memberikan bimbingan dan bantuan terhadap siswa dalam pembelajaran, diperlukan pengorganisasian kelas yang memadai. Pengorganisasian kelas adalah suatu rentetan kegiatan guru untuk menunbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif, yang meliputi: (1) tujuan pembelajaran, (2) pengaturan penggunaan waktu yang tersedia, (3) pengaturan ruang dan perabot pelajaran di kelas, serta (4) pengelompokan dalam belajar.
a.       Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran merupakan pangkal tolak keberhasilan dalam mengajar. Makin jelas rumusan tujuan, makin mudah menyusun rencana dan melaksanakan kegiatan belajar siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar siswa di bawah bimbingan guru.
b.      Waktu
Waktu yang tersedia dalam jadwal untuk setiap pelajaran, untuk setiap caturwulan, dan untuk satu tahun pelajaran yang sangat terbatas. Karena itu diperlukan pengaturan waktu yang yang tersedia. Melalui pengaturan waktu yang tersedia, diharapkan siswa dapat melakukan berbagai kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran.
c.       Pengaturan Ruang Belajar
Agar tercipta suasana yang menyenangkan dan menggairahkan dalam belajar, perlu diperhatikan pengaturan ruang belajar. Penyusunan dan pengaturan ruang belajar hendaknya memungkinkan siswa duduk berkelompok dan memudahkan guru bergerak secara leluasa untuk membantu siswa dalam belajar
Dalam pengaturan ruang belajar, beberapa hal yang berikut perlu diperhatikan:
·         Ukuran dan bentuk kelas
·         Bentuk serta ukuran bangku dan meja siswa
·         Jumlah siswa di dalam kelas
·         Jumlah siswa di dalam setiap kelompok
·         Jumlah kelompok di dalam kelas
·         Komposisi siswa dalam kelompok (siswa pandai dengan siswa kurang pandai, pria dengan wanita)
d.      Pengaturan Siswa dalam Belajar
Dalam belajar, siswa melakukan berbagai kegiatan belajar. kegiatan belajar siswa disesuaikan dengan minat dan kebutuhan siswa. Ada siswa yang dapat belajar sendiri dan ada pula yang dapat belajar secara berkelompok. Oleh karena itu perlu pengelompokan belajar. di dalam penyusunan anggota kelompok, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
1.      Kegiatan belajar apa yang akan dilaksanakan (individual, berpasangan, kelompok atau klasikal)?
2.      Siapa yang menyusun anggota kelompok (guru, siswa, atau guru dan siswa)
3.      Atas dasar apa kelompok itu selalu tetap atau berubah-ubah sesuai kebutuhan siswa dalam belajar?
e.       Pengelompokan Siswa Melayani Kegiatan Pembelajaran
Untuk mewujudkan suasana belajar di mana siswa menjadi pusat kegiatan belajar, perlu organisasi kelas yang luwes. Bangku, kursi, dan alat-alat lainnya mudah dipindahkan untuk kepentingan bekerja kelompok. Ruangan kelas dan segala fasilitas yang disediakan perlu diatur untuk melayani kegiatan belajar. penempatan papan tulis tidak harus menetap di suatu tempat. Fasilitas kelas hendaknya dapat melayani pemajangan hasil-hasil pekerjaan kelas.
Dalam melayani kegiatan belajar aktif, pengelompokan siswa mempunyai arti tersendiri. Jadi dibedakan dari pengelompokan yang sederhana sampai yang kompleks, maka pengelompokan siswa dapat dibedakan dalam tiga jenis, yaitu: 1) pengelompokan menurut “kesenangan berkawan”, 2) pengelompokan menurut kemampuan, 3) pengelompokan menurut minat.
f.       Tutor sebaya, siswa befungsi sebagai guru
Di negrara maju, percobaan menggunakan siswa sebagai guru atau tutor sebaya telah berlangsung dan menunjukkan keberhasilan. Di Indonesia sedang dicobakan. Dasar pemikirannya adalah siswa yang pandai dapat memberikan bantuan kepada siswa yang kurang pandai. Bantuan tersebut dapat dilakukan kepada teman sekelasnya di sekolah atau kepada teman sekelasnya di luar sekolah.[4]

C.  Pendekatan Psikologikal
Pendekatan pengelolaan kelas berdasarkan perubahan tingkah laku bertolak dari sudut pandang psikologi behavioral yang mengemukakan asumsi sebagai berikut :
1.      Semua tingkah laku yang baik dari yang kurang baik merupakan hasil proses belajar.
2.      Dalam proses belajar terdapat proses psikologis yang fundamental  berupa penguat positif (positive reinforcement), hukuman (Punishment), penghapusan (extinction) dan penguat negatif (negatif reinforcement).
Asumsi pertama mengharuskan guru kelas berusaha menyusun program kelas dan suasana yang dapat merangsang terwujudnya proses belajar yang memungkinkan siswa mewujudkan tingkah laku murut norma yang berlaku di lingkungan sekitar.
Asumsi kedua menunjukkan bahwa ada empat proses yang perlu diperhitungkan dalam belajar bagi semua orang pada segala tingkatan umur dan dalam segala keadaan (situasi). Proses belajar itu sebagian atau seluruhnya dipengaruhi oleh kejadian-kejadian yang berlangsung di lingkungan. Dengan demikian tugas guru ialah menguasai dan menerapkan keempat proses yang telah terbukti merupakan pengontrol tingkah laku manusia, yaitu:
1.      Penguatan positif (positive reinforcement)
2.      Hukuman (punishment)
3.      Penghapusan (extinction) dan penundaan (time out)
4.      Penguat negatif (negative reinforcement)

1.      Penguat Positif (positive reinforcement)
Dalam kegiatan belajar mengajar, penghargaan (penguat positif) mempunyai arti penting. Tingkah laku dan penampilan siswa yang baik, diberi penghargaan dalam bentuk senyuman atau pun kata-kata pujian yang merupakan penguat terhadap tingkah laku dan penampilan siswa. Penguat adalah respons terhadap tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulang kembali tingkah laku tersebut. Adapun komponen-komponen yang perlu dipahami dan dikuasai penggunaannya oleh guru agar ia dapat memberikan penguat secara bijaksana adalah sebagai berikut :
a.       Penguat verbal yaitu penguat berupa kata-kata pujian, pengakuan, dorongan yang dipergunakan untuk menguatkan tingkah laku dan penampilan siswa.
b.      Penguat non verbal yaitu penguat berupa mimik dan gerakan badan, penguat dengan cara mendekati, penguat dengan bentukan, penguat dengan kegiatan yang menyenangkan dan penguat brupa simbol atau benda.
Penguat berupa mimik dan gerakan-gerakan badan seperti acungan ibu jari, anggukan, senyuman, kadang-kadang dilaksanakan bersama-sama dengan penguat verbal. Misalnya ketika guru memberikan penguat verbal “bagus sekali” kepada seorang siswa, pada saat itu juga guru mengacungkan jempolnya ke arah siswa itu. Namun demikian, penguat non verbal ini tidak harus selalu dilaksanakan pada saat yang sama dengan penguat verbal.
Penguat dengan cara mendekati ialah mendekatnya guru kepada siswa untuk menyatakan perhatian dan kesenangannya terhadap pekerjaan, tingkah laku atau penampilan siswa. Cara tersebut dapat dilaksanakan antara lain dengan cara duduk dekat seorang atau kelompok siswa, berdiri disamping siswa, berjalan disisi siswa, dan sebagainya.
Penguat dengan sentuhan dapat dilaksanakan guru dengan menyatakan persetujuan dan penghargaannya terhadap usaha atau penampilan siswa dengan menepuk bahu atau menjabat tangan siswa. Penggunaan jenis penguat ini harus dipertimbangkan dengan seksama, agar sesuai dengan jenis kelamin siswa, umur siswa dan latar belakang kebudayaan setempat. Penguat berupa menepuk bahu siswa misalnya, mungkin tidak tepat dilakukan guru laki-laki kepada siswa perempuan atau sebaliknya.
Selain komponen-komponen pemberian penguat tersebut diatas, ada beberapa prinsip yang melandasi penggunaan penguat yaitu:
1)      Kehangatan dan keantusiasan
2)      Kebermaknaan
3)      Menghindari penggunan respons yang negatif
Dalam memberikan penguat, guru patut menampakkan kehangatan dan keantusiasan. Gaya dan sikap guru termasuk mimik, suara dan gerakan badan, akan menunjukkan adanya kehangatan dan keantusiasan dalam memberikan penguat. Siswa perlu memahami hubungan antara tingkah laku dan penampilannya dengan penguat yang diberikan kepadanya. Ia harus dapat mengerti dan yakin bahwa ia patut diberi penguat itu karena sesuai dengan tingkah laku dan penampilannya. Dengan demikian penguat itu bermakna baginya. Walaupun teguran dan hukuman tetap dapat digunakan untuk mengontrol dan membina tingkah laku siswa, tetapi respons negatif yang diberikan guru berupa komentar bernada menghina atau ejekan yang kasar perlu dihindari, karena akan mematahkan semangat siswa untuk mengembangkan dirinya. Karena iitu bila siswa tidak memberikan jaaban yang diharapkan, janganlah guru langsung menyalahkannya, tetapi memindahkan giliran menjawab oleh siswa lain. Jika pertanya tersebut terjawab oleh siswa lain, siswa yang tidak dapat menjawabtadi dapat menyadari kesalahannya. Dengan demikian guru menghindari pemberian respons negatif, sambil tetap berusaha dengan bijaksana memberikan balikan kepada siswa yang membutuhkan  bantuan guru.
2.      Hukuman
Dalam mempergunakan hukuman sebagai suatu upaya pendidikan, guru harus mengenali dan memahami keuntungan dan kerugian penggunaan hukuman. Beberapa keuntungannya adalah:
1.      Hukuman dapat menghentikan dengan segera tingkah laku siswa yang menyimpang dan dapat mencegah berulangnya kembali tingkah laku itu dalam waktu yang cukup lama.
2.      Hukuman berfungsi sebagai pemberi petunjuk kepada siswa dengan kenyataan bahwa siswa dibantu untuk segera mengetahui tingkah laku mana yang dapat diterima.
3.      Hukuman berfungsi sebagai pengajaran bagi siswa-siswi lain dengan kenyataan bahwa hukuman itu mungkin mengurangi kemungkinan siswa-siswi lain meniru tingkah laku yang mendapat hukuman itu.
Beberapa kerugian penggunaan hukuman meliputi:
1.      Hukuman dapat ditafsirkan salah.
2.      Hukuman dapat menyebabkan siswa yang bersangkutan menarik diri sama sekali.
3.      Hukuman dapat menyebabkan siswa agresif.
4.      Hukuman dapat mempengaruhi kejiwaan siwa yang berangkutan.
Dalam menghukum, guru hendaklah berpedoman pada “punitur, qunia peccatum est” (dihukum karena telah bersalah) dan “punitur no peccatum” (dihukum agar tidak lagi berbuat kesalahan) (M.J. Langeveld, 1975). Namun guru harus menyadari bahwa hukuman tidak boleh diberikan sebagai pembalasan dendam, tidak diberikan dalam keadaan marah dan hukuman itu akan memberikan efek yang positif terhadap perubahan tingkah laku siswa.
Selain dari itu, dalam melaksanakan hukuman guru harus memperhatikan beberapa faktor sebagai berikut :
1.      Hubungan sosial antara guru dan siswa sangat menentukan akibat-akibat dari hukuman.
2.      Hukuman harus dilaksanakan berbeda-beda sesuai dengan jenis kelamin dan kepribadian siswa masing-masing.
3.      Hukuman itu hendaknya ada sangkut-pautnya dengan pelanggaran.
4.      Guru hendaknya berusaha mengadakan penilaian terhadap pandangan siswa-siswi mengenai hukuman yang dijatuhkannya.
5.      Dalam memberikan hukuman hendaknya ditinjau dari seluruh situasi kegiatan belajar mengajar.
3.      Penghapusan (extinction) dan penundaan (time out)
Penghapusan adalah menahan (tidak lagi memberikan) ganjaran yang diharapkan akan diberikan seperti yang sudah-sudah (menahan pemberian penguat positif). Penghapusan ini menghasilkan penurunan frekuensi tingkah laku yang semula mendapat penguat.
Penundaan (time out) merupakan tindakan tidak jadi memberikan ganjaran atau mengecualikan pemberian ganjaran untuk siswa tertentu. Penundaan seperti ini menurunkan frekuensi penguat dan menurunkan frekuensi tingkah laku siswa. Misalnya, para siswa di kelas Ibu Fatimah (guru Bahasa Inggris) yakin baha guru mereka itu akan menyelenggarakan permainan kata-kata (word game) jika para sisa mengerjakan tugas dengan baik. Permainan ini digemari oleh para siswa. Ternyata siswa-siswi memang mengerjakan tugas dengan baik kecuali Totok. Ibu fatimah mengatakan pada Totok tidak diperkenankan ikut serta dalam permainan itu dan duduk sendiri dari kelompoknya (mengecualikan pemberian ganjaran untuk siswa tertentu). Selanjutnya, Totok mengerjakan tugas-tugas dengan lebih baik.
4.      Penguat negatif (Negative Reinforcement)
Yang dimaksud penguat negatif adalah peniadaan perangsang yang tidak mengenakkan (hukuman) setelah ditampilkannya suatu tingkah laku yang mengakibatkan menurunnya frekuensi tingkah laku yang dimaksud. Peniadaan hukuman itu memperkuat tingkah laku yang ditampilkan dan meningkatkan kecenderungan diulanginya tingkah laku tersebut. Misalnya, Neneng adalah salah seorang siswa yang terus-menerus menyerahkan kepada guru laporan yang ditulis tidak rapi. Meskipun guru terus-menerus menegur dan memarahinya, laporam-laporan nenenng itu tetap tidak lebih baik. Pada suatu ketika Neneng menyerahkan laporan agak rapi, guru menerima laporan Neneng itu tanpa komentar dan tanpa teguran (marah) yang selama ini ditempakan kepadanya (peniadaan hukuman). Selanjutnya, laporan-laporan neneng menjadi lebih rapi (frekuensi tingkah laku meningkat).[5]
Dalam pendekatan psikologikal selain dari buku Mulyadi yang berjudul Classroom Management. Penjelasan yang di jelaskan tidak jauh dari yang sudah dijelaskan di atas, ini adalah sebagai penambahan pengetahuan kepada kita, bahwa pendekatan psikologikal sangat penting dalam pengelolaan kelas yang harus diketahui oleh seorang guru, penjelasannya adalah sebagai berikut: 
Behaviour-Modification Approach
Pendekatan ini bertolak dari psikologi behaviral yang mengemukakan asumsi bahwa
1)      Semua tingkah laku, yang “baik” maupun “yang kurang baik” merupakan hasil proses belajar
2)      Ada sejumlah proses psikologi yang fundamental yang dapat digunakan untuk menjelaskan terjadinya proses belajar yang dimaksud, adapu proses psikologi yang dimaksud adalah penguatan positif (positive reinforcement), hukuman, penghapusan (extinction), dan penguatan negative (negative reinforcement)
Penguatan ini sendiri ada dua macam, yaitu penguatan primer (primary or unconditioned reinforcers yang menjadi penguat sebagai hasil proses belajar), dan penguatan sekunder (secondary or conditioned reinforcers yang menjadi penguat sebagai hasil dari proses belajar).
Hukuman merupakan sarana pengelolaan kelas yang kontroversial. Sebagian menganggap bahwa hukuman merupakan alat yang efektif untuk dengan segera menghentikan tingkah laku yang tidak dikehendaki di samping sekaligus bisa merupakan suri tauladan bagi murid lain secara tegas mendefinisikan tingkah laku yang tidak dikehendaki, akan tetapi akibat sampingan bisa serius. Misalnya, hubungan pribadi antara guru (penghukum) dan murid (terhukum) dapat terganggu murid terhukum dan mungkin juga yang lain mungkin menggeneralisasikan tingkah laku yang dihukum, misalnya murid kapok mengemukakan pendapat: atau murid yang dihukum justru menjadi “pahlawan” dimata kawan-kawannya.
Socio – Emotional-Climate Approach
Dengan berlandaskan Psikologi Klinis dan Konseling, pendekatan pengelolaan kelas ini mengasumsikan bahwa:
1.      Proses belajar mengajar yang efektif mempersyaratkan iklim sosio-personal yang baik dalam arti terdapat hubungan inter-personal yang baik antar guru murid dan antar murid.
2.      Guru menduduki posisi terpenting bagi terbentuknya iklim sosio-emosional yang baik itu.
Ada sejumlah ahli yang menganjurkan pendekatan ini.
Carls A. Rogers menekankan pentingnya guru bersikap tulus di hadapan murid (roalness, genueness and congruence); menerima dan menghadapi murid sebagai manusia (acceptance, prizing, caring, and trust); dan mengerti murid dari sudut pandangan murid sendiri (emphatio understanding). Selanjutnya Halm C. Ginott mengaggap sangat penting kemampuan guru melakukan komunikasi yang efektif dengan murid dalam arti dalam mengusahakan pemecahan masala, guru membicarakan situasi, dan bukan pribadi pelaku pelanggaran. Dengan perkataan lain, William Glasser memusatkan perhatiannya pada pentingnya guru membina rasa tanggung jawab sosial dan harga diri murid dengan cara setiap kali mengarahkan murid untuk mendeskripsikan masalah yang dihadapi.[6]

Group-Processess Approach
Dan Pendekatan ini didasarkan pada Psikologi Sosial dan Dinamika Kelompok. Oleh karena itu maka asumsi pokoknya adalah
1.      Pengalaman belajar sekolah berlangsung dalam kontek kelompok sosial
2.      Tugas guru yang terutama dalam pengelolaan kelas adalah membina dan memelihara kelompok yang produktif dan kohesif. 
Menurut Richard A. Schmuck dan Patricia A. Schmuck unsur-unsur pengelolaan  Pexpectation) tingkah laku guru-murid dan antar murid sendiri; (2) kepemimpinan baik dari guru maupun dari murid yang mengarahkan kegiatan kelompok kearah pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditetapkan; (3) pola persahabtan (attraction) antara anggota kelas semakin baik ikatan persahabtan yang dimaksud semakin besar peluang kelompok menjadi produktif; (4) norma, dalam arti dimiliki serta dipertahankan noema kelompok yang produktif, serta diubah dan digantinya norma yang kurang produktif.

Eclectic Approach
Akhirnya, apabila disimak secara seksama maka ketiga pendekatan yang telah diuraikan di muka adalah ibarat sudut pandangan yang berbeda-beda terhadap obyek yang sama. Oleh karena itu maka seorang guru seyogyanya (1) menguasai pendekatan-pendekatan pengelolaan kelas yang potensional, dalam hal ini pendekatan perubahan tingkah laku. Penciptaan Iklim Sosio-Emosional dan proses Kelompok; dan (2) dapat memilih pendekatan yang tepat dan melaksanakan prosedur yang sesuai dengan baik dalam masalah pengelolaan kelas. Pada gilirannya kemampuan guru memilih strategi pengelolaan kelas yang tepat sangat terganting pada kemampuannya menganalisis masalah pengelolaan kelas yang dihadapinya.
Pendekatan perubahan tingkah laku dipilih bila tujuan tindakan pengelolaan yang akan dilakukan adalah menguatkan tingkah laku murid yang baik dan/atau menghilangkan tingkah laku murid yang kurang baik; pendekatan Penciptaan Iklim Sosio-Emosional dipergunakan apabila sasarn tindakan pengelolaan adalah peningkatan hubungan antar pribadi guru murid dan antar murid, sedangkan pendekatan Proses Kelompok dianut bila seorang guru ingin kelompoknya melakukan kegiatan secara produktif.[7] 

D.  Pendekatan Sistem
Pada dasarnya proses pembelajaran terkait dengan berbagai komponen yang sangat kompleks. Komponen tersebut meliputi tujuan, materi, media, siswa, guru dan komponen lainnya. Masing-masing komponen tersebut saling terkait sebagau suatu sistem. Oleh sebab itu, penyusunan perencanaan pembelajaran perlu didasarkan pada pendekatan sistem.
Sistem berarti gabungan dari beberapa komponen sebagai satu kesatuan yang utuh untuk mencapai tujuan. Suatu sistem dapat menjadi supra atau subsistem dari sistem lainnya. Supra sistem adalah suatu sistem yang berada di atasnya. Sedangkan subsistem adalah sistem yang berada dalam sistem. Misalnya, sistem pembelajaran dapat menjadi supra dari sistem metode metode pembelajaran dan dapat menjadi su sistem dari sistem sekolah.
Suatu sistem merupakan keterkaitan antara (masukan), proses, dan (keluaran). Misalnya, masukan dari pembelajaran dapat berupa siswa, guru, materi, dan media. Proses pembelajaran adalah aktivitas kegiatan pembelajaran. Keluaran dapat berupa perubahan diri siswa sebagai hasil dari proses pembelajaran.[8]    


















BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pendekatan pembelajaran diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang dalam proses pembelajaran yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang bersifat umum. Adapun pendekatan merupakan unsur penting yang harus dikuasai pengajar sebelum mempersiapkan perencanaan pembelajaran.
Pendekatan Managerial atau lebih umum dengan istilah pendekatan manajemen adalah sebuah pendekatan yang bersifat sistematis, karena pengelolaannya yang teratur dalam melibatkan unsur-unsur yang terpadu didalam proses pembelajaran.
Pendekatan perubahan tingkah laku dipilih bila tujuan tindakan pengelolaan yang akan dilakukan adalah menguatkan tingkah laku murid yang baik dan/atau menghilangkan tingkah laku murid yang kurang baik; pendekatan Penciptaan Iklim Sosio-Emosional dipergunakan apabila sasarn tindakan pengelolaan adalah peningkatan hubungan antar pribadi guru murid dan antar murid, sedangkan pendekatan Proses Kelompok dianut bila seorang guru ingin kelompoknya melakukan kegiatan secara produktif.
Komponen tersebut meliputi tujuan, materi, media, siswa, guru dan komponen lainnya. Masing-masing komponen tersebut saling terkait sebagau suatu sistem. Oleh sebab itu, penyusunan perencanaan pembelajaran perlu didasarkan pada pendekatan sistem.
Sistem berarti gabungan dari beberapa komponen sebagai satu kesatuan yang utuh untuk mencapai tujuan. Suatu sistem dapat menjadi supra atau subsistem dari sistem lainnya. Supra sistem adalah suatu sistem yang berada di atasnya. Sedangkan subsistem adalah sistem yang berada dalam sistem. Misalnya, sistem pembelajaran dapat menjadi supra dari sistem metode metode pembelajaran dan dapat menjadi su sistem dari sistem sekolah.
Suatu sistem merupakan keterkaitan antara (masukan), proses, dan (keluaran). Misalnya, masukan dari pembelajaran dapat berupa siswa, guru, materi, dan media. Proses pembelajaran adalah aktivitas kegiatan pembelajaran. Keluaran dapat berupa perubahan diri siswa sebagai hasil dari proses pembelajaran.

















DAFTAR PUSTAKA

Abu Ahmadi, Ahmad Rohani, Pedoman Penyelenggaraan Administrasi Pendidikan di

Sekolah, Jakarta: Bumi Aksara, 1991

Achmad Sapari, supriono S, Manajemen Berbasis Sekolah Jatim: SIC, 2001

Cony Semiawan, dkk, Pendekatan Keterampilan Proses, Jakarta: 1987

Hadari Nawawi, Organisasi Sekolah dan Pengelolaan kelas Sebagai Lembaga Pendidikan,

Jakarta: CV Haji Masagung, 1989

Mulyadi.Classroom Management. Malang: UIN malang Press.2009

Rohani Ahmad, Pengelolaan Pengajaran, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004

Suwardi, Manajemen Pendidikan, Salatiga: STAIN Salatiga Press, 2007


[1] Rohani Ahmad, Pengelolaan Pengajaran, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004), hal.148
[2] Abu Ahmadi, Ahmad Rohani, Pedoman Penyelenggaraan Administrasi Pendidikan di Sekolah, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hal.142
[3] Prof. Dr. Cony Semiawan, dkk, Pendekatan Keterampilan Proses, (Jakarta: 1987), hal. 71.
[4] Achmad Sapari, supriono S, Manajemen Berbasis Sekolah (Jatim: SIC, 2001), 24-26
[5] Mulyadi.Classroom Management.(Malang: UIN malang Press.2009). hal. 35-45
[6] Hadari Nawawi, Organisasi Sekolah dan Pengelolaan kelas Sebagai Lembaga Pendidikan, (Jakarta: CV Haji Masagung, 1989), hal 140-142
[7] Abu Ahmadi, Ahmad Rohani, Pedoman Penyelenggaraan Administrasi..., 148.
[8] Suwardi, Manajemen Pendidikan, (Salatiga: STAIN Salatiga Press, 2007), hal 31-32

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar