Senin, 13 Mei 2013

PENGOLAHAN HASIL EVALUASI



BAB II
PEMBAHASAN
A.      Teknik Pengolahan Nilai
Dari pelaksanaan penilaian (melalui pengukuran atau tidak) dapat dikumpulkan sejumlah data atau informasi yang dibutuhkan dalam evaluasi hasil belajar. Data yang terkumpul dari penilaian dengan teknik tes akan berupa data kuantitatif, sedangkan teknik non tes akan menjaring data kualitatif maupun kuantitatif sekaligus. Data yang terkumpul baik melalui teknik tes maupun teknik non tes merupakan data mentah yang memerlukan pengolahan lebih lanjut. Kegiatan mengolah data yang berhasil dikumpulkan melalui kegiatan penilaian inilah yang disebut kegiatan pengolahan hasil penilaian.

Prosedur pelaksanaan pengolahan hasil penilaian adalah sebagai berikut :
1.      Menskor, yakni memberikan skor pada hasil penilaian yang dapat dicapai oleh responden (peserta didik). Untuk menskor atau memberikan angka diperlukan 3 (tiga) macam alat bantu, yakni kunci jawaban, kunci skoring dan pedoman pengangkaan. Tiga macam alat bantu penskoran atau pengangkaan berbeda-beda cara penggunaannya untuk setiap butir soal yang ada dalam alat penilai.
2.      Mengubah skor mentah menjadi skor standar, yakni kegiatan evaluator menghitung untuk mengubah skor yang diperoleh peserta didik yang mengerjakan alat penilaian disesuaikan dengan norma yang dipakai.
3.      Mengkonversikan skor standar ke dalam nilai, yakni kegiatan akhir dari pengolahan hasil penilaian yang berupa pengubah skor ke nilai, baik berupa huruf atau angka. Hasil pengolahan hasil penilaian ini akan digunakan dalam kegiatan penafsiran hasil penilaian. Untuk memudahkan penafsiran hasil penilaian, maka hasil akhir pengolahan hasil penilaian dapat diadministrasikan dengan baik.[1] Dalam bukunya Zainal Arifin ditambah satu prosedur lagi yaitu melakukan analisis soal (jika diperlukan) untuk mengetahui derajat validitas dan reabilitas soal, tingkat kesukaran soal (difficulty index), dan daya pembeda.
Jika data sudah diolah dengan aturan-aturan tertentu, langkah selanjutnya adalah menafsirkan data sehingga dapat memberikan makna. Langkah penafsiran data sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari pengolahan data itu sendiri, karena setelah mengolah data dengan sendirinya akan menafsirkan hasil pengolahan itu. Interpretasi terhadap suatu hasil evaluasi didasarkan atas kriteria tertentu yang disebut norma. Norma bisa ditetapkan terlebih dahulu secara rasional dan sistematis sebelum kegiatan evaluasi dilaksanakan, tetapi dapat pula dibuat berdasarkan hasil-hasil yang diperoleh dalam melaksanakan evaluasi. Sebaliknya, jika penafsiran data itu tidak berdasarkan kriteria atau norma tertentu, maka itu termasuk kesalahan besar. Dalam kegiatan penilaian hasil belajar, guru dapat menggunakan kriteria yang bersumber pada tujuan setiap mata pelajaran (standar kompetensi, kompetensi dasar). Kompetensi itu tentu masih bersifat umum, karena itu harus dijabarkan menjadi indikator yang dapat diukur dan diamati.[2]
Untuk menafsirkan data, dapat digunakan dua jenis penafsiran data, yaitu penafsiran kelompok dan penafsiran individual. Penafsiran kelompok adalah penafsiran yang dilakukan untuk mengetahui karakteristik kelompok berdasarkan data hasil evaluasi, seperti prestasi kelompok, rata-rata kelompok, sikap kelompok terhadap guru dan materi pelajaran yang diberikan, dan distribusi nilai kelompok. Tujuan utamanya adalah sebagai persiapan untuk melakukan penafsiran kelompok, untuk mengetahui sifat-sifat tertentu pada suatu kelompok, dan untuk mengadakan perbandingan antar kelompok. Penafsiran individual adalah penafsiran yang hanya tertuju pada individu saja. Misalnya, dalam kegiatan bimbingan dan penyuluhan atau dalam situasi klinis lainnya. Tujuan utamnya adalah untuk melihat tingkat kesiapan peserta didik (readiness), pertumbuhan fisik, kemajuan belajar, dan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya.[3]
Sebelum melakukan tes, guru harus menyusun pedoman pemberian skor, bahkan sebaiknya guru sudah berpikir tentang strategi pemeberian skor sejak merumuskan kalimat pada setiap butir soal. Pedoman penskoran sangat penting disiapkan terutama bentuk soal esai. Hal ini dimaksudkan untuk meminimalisai subjektivitas penilai. Begitu juga ketika melakukan tes domain afektif dan psikomotor peserta didik, karena harus ditentukan ukuran-ukuran sikap dan pilihan tindakan dari peserta didik dalam menguasai kompetensi yang telah ditetapkan. Rumus penskoran yang digunakan bergantung pada bentuk soalnya, sedangkan bobot (weight) bergantung pada tingkat kesukaran soal (difficulty index), misalnya sukar, sedang, dan mudah.[4]
B.       Teknik Pengolahan Skor
1.      Mengolah skor mentah menjadi nilai huruf
Disamping penilaian yang dinyatakan dengan angka kita mengenal pula penilaian dengan huruf. Seperti penilaian yang dilakukan oleh guru taman kanak-kanak. Pengolahan skor mentah menjadi huruf menggunakan sifat-sifat yang terdeapat pada kurva normal atau distribusi normal sebagai dasar perhitungan.
Adapun cirri-ciri distribusi normal antara lain adalah sebagai berikut:
1.      Memiliki jumlah atau kepadatan frekuensi yang tetap pada jarak deviasi-deviasi tertentu.
2.      Pada distribusi normal, mean, median, dan mode berimpit (sama besar),terletak tepat ditengah kurva dan membagi dua sama besar jarak deviasi.
Berdasarkan sifat-sifat distribusi normal itulah maka untuk penjabaran skor mentah enjadi nilai huruf dipergunakan mean dan DS.[5]
1.      Mengolah skor mentah menjadi nilai huruf dengan menggunakan mean (M) dan Deviasi Standar (DS).
Mencari mean (M) dan Deviasi Standar dalam rangka mengolah skor mentah menjadi nilai huruf dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu jika banyaknya skor yang diolah kurang dari 30, digunakan tabel distribusi frekuensi tunggal; dan jika banyaknya skor yang diolah lebih dari 30,  misalnya sampai 40 atau 50 skor atau lebih, sebaiknya digunakan tabel distribusi frekuensi bergolong. Berikut ini sebuah contoh yang menggunakan tabel distribusi tunggal.
Misalkan seorang guru PBA memperoleh skor mentah dari hasil test yang telah diberikan kepada 20 orang peserta didik sebagai berikut:
73, 70, 68, 68, 67, 67, 65, 65, 63, 62,
60, 59, 59, 58, 58, 56, 52, 50, 41, 40.
Skor mentah itu akan diolah menjadi huruf A, B, C, D, TL dengan menggunakan M dan DS. Untuk itu membuat tabel sebagai berikut[6]:
Langkah-langkah menysun tabel:
a.       Masukan nama siswa (kedalam kollom satu) dan skor masing-masing siswa (kedalam kolom 2), kemudian jumlahkan. kita akan memperoleh .
b.      Menghitung mean dengan membagi jumlah skor itu  dengan N (banyaknya peserta didik yang dites). Jadi, rumus untuk mencari M adalah
M = .
c.       Mengisi kolom tiga dengan selisih (deviasi) tiap-tiap skor dari mean (X-M).
d.      Mengisi kolom 4 dengan menguadratkan angka-angka dari kolom 3. Kemudian jumlahkan sehngga memperoleh ∑ (X-M)2.
e.       Langkah terakhir adalah iialah menghitung mean dan DS dengan rmus-rumus sebagai berikut:
M =     DS =

TABEL UNTUK MENGHITUNG MEAN DAN DS
Nama Siswa
Skor mentah (X)
(X-M) atau (d)
(X-M)2 atau (d)2
Amrin
73
13
169
Budi
70
10
100
Fiki
68
8
64
Mardi
68
8
64
Popon
67
7
49
Sarman
67
7
49
Jufri
65
5
25
Pairah
65
5
25
Nana
63
3
9
Rini
62
2
4
Suci
60
0
0
Nandar
59
-1
1
Jamhari
59
-1
1
Jibok
58
-2
4
Kusnan
58
-2
4
Ida
56
-4
16
Tutik
52
-8
64
Paimo
50
-10
100
Waluyo
41
-19
361
Paiman
               40            
-20
400
Jumlah
1201
-
1509

Dari tabel ini kemudian dicari mean dan DS dengan rumus sebagai berikut:
           M =  =  = 60,05 dibulatkan = 60
           DS =  =  == 8,69
           Penjabaran menjadi nilai huruf.
Dari perhitungan diatas maka kita telah memperoleh mean=60 dan DS= 8,69. Selanjutnya kita dapat menjabarkan skor-skor mentah yang kita peroleh kedalam nilai huruf melalui langkah-langkah sebagai berikut:
a.       Pertama kita menentukan besarnya skala unit deviasi (SUD). Misalnya dalam penjabaran  ini kita menggunakan seluruh jarak range dari kurva normal, yaitu diantara -3DS s.d. +3DS = 6DS. Karena nilai huruf yang akan digunakan adalah A-B-C-D-TL yang berarti 4 unit, dalam hal ini tentukan besarnyaSUD = 6DS:4 = 1,5DS. Jadi, SUD = 1,5×8,69 = 13,035, dibulatkan =13.
b.      Titik tengah nilai C terletak pada mean = 60 karena C merupakan nilai tengah pada skala  penilaian A-B-C-D-TL. Jadi kita telah mendapatkan SUD= 13 dan titik tengah C = M = 60.
c.       Langkah selanjutnya kita menentukan batas bawah dan batasatas dari masing-masing nilai huruf. Karena titik tengah 60 maka.
1)      Batas bawah C = M – 0,5 SUD
 = 60 – 0,5 × 13 = 53,5
2)      Batas atas C = M + 0,5 SUD
         = M + 0,5  × 13 = 66,5
3)      Batas bawah D = M - 1,5 SUD
             = M - 1,5  × 13 = 34
4)      Skor dibawah 34 = TL
Batas bawah B = M + 1,5 SUD
             = M + 1,5  × 13 = 79,5
5)      Skor diatas 79,5 = A
d.      Berdasarkan hasil perhitungan pada langkah c diatas, kita mentransfer skor mentah dari 20 orang peserta didik kedalam nilai huruf sebagai berikut:
1)      Skor 80 keatas = A = tidak ada
2)      Skor 67 - 79,5 =  B = 6 orang
3)      Skor 54 – 66,5 = C = 10 orang
4)      Skor 34 – 53,5 = D = 4 orang
5)      Skor dibawah 34 = TL = tidak ada
2.      Mengolah skor mentah menjadi nilai huruf dengan batas lulus = mean.
Cara lain mengolah skor mentah menjadi nilai huruf ialah dengan menggunakan mean dan DS yang diperoleh dengan membuat tabel frekuensi. Untuk jelasnya, berikut ini kami kemukakan sebuah contoh. [7]
Misalkan seorang guru PBA memperoleh skor dari hasil ujian semester dari 50 orang peserta didik sebagai berikut:
97, 93, 92, 90, 87, 86, 86, 83, 81, 80
80, 78, 76, 76, 75, 74, 73, 72, 72, 71
69, 67, 67, 67, 64, 63 63, 62, 62, 60
58, 57, 57, 56, 56, 54, 52, 50, 47, 45
43, 39, 36, 36, 32, 29, 27, 26, 20, 16
Skor mentah ini akan kita olah menjadi nilai huruf A, B, C, D, TL. Untuk mencari mean dan DS kita susun skor mentah tersebut kedalam tabel frekuensi. (lihat kembali cara menyusun tabel seperti yang telah diuraikan). Kita cari range untuk menentukan besarnya interval dan kelas interval.
R= 97-16= 81
Kelas interval =  + 1 =  +1 =9
Jadi dengan menentukan besar intervalnya 10 maka kita peroleh kelas interval = 9.
TABEL DISTRIBUSI FREKUENSI
Kelas
Interval
f
D
Fd
Fd × d
1
96 – 105
1
4
4
16
2
86 – 95
6
3
18
54
3
76 – 85
7
2
14
28
4
66 – 75
10
1
10
10
5
56 – 65
11
0
0
0
6
46 – 55
4
-1
-4
4
7
36 – 45
5
-2
-10
20
8
26 – 35
3
-3
-9
27
9
16 – 25
3
-4
-12
48


50

11
207

Dari tabel ini kita mencari mean dengan rumus:
+ i
Keterangan:
M= mean sebenarnya yang akan dicari
M’ = mean dugaaan dalam tabel ini
      =  =  = 60,5
I = interval = 10
∑fd = 11
Dengan rumus diatas maka:
M= 60,5 +10  = 60,5 +  = 60, 5 + 2,2 = 62,7= 63
Cara mencari deviasi standard adalah dengan rumus:
DS=
Dari tabel diatas kita dapat menghitung DS sebagai berikut:
DS = 10
      = 10 = 10
      = 10×1,9 = 19
Selanjutnya jika kita akan mengubah skor mentah yang diperoleh menjadi nilai huruf dengan batas lulus = mean caranya adalah sebagai berikut:
Telah ditentukan bahwa batas lulus = mean = 63. Jadi,skor mentah dari 63 keatas kita bagi menjadi nilai huruf A, B, C, D, dan skor dibawah 63 dinyatakan TL. Dengan demikian untuk selanjutnya kita dapat menghitung dengan mudah batas atas dan batas bawah dari masing-masing nilai huruf itu sebagai berikut:
a.       Batas bawah D atau batas lulus = mean = 63
b.      Skor dibawah 63 = TL
c.       Batas atas D = M + 1 SUD = M + 0,75 DS =
         = 63 14,25 = 77 (dibulatkan)
d.      Batas atas C =M + 2 SUD = M + 1,5 DS=
        = 63 + 28,5 = 92 (dibulatkan)
e.       Batas atas B =M + 3 SUD = M + 2,25 DS=
        = 63 + 42,75 = 106 (dibulatkan)
f.       Skor di atas 106 = A
Dengan perhitungan diatas maka hasil kelulusan dari 50 peserta didik tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Yang tidak lulus (TL), skor dibawah 63 = 23 orang
b.      Yang mendapat nilai D, skor 63-77 = 15 orang
c.       Yang mendapat nilai C, skor 78-92 = 10 orang
d.      Yang mendapat nilai B, skor 93-106 = 2 orang
e.       Yang mendapat nilai A, skor diatas 106 = tidak ada
f.        
C.      Konversi Skor
Konversi skor adalah proses transformasi skor mentah yang dicapai peserta didik ke dalam skor terjabar atau skor standar untuk menetapkan nilai hasil belajar yang diperoleh. Secara tradisional, dalam menentukan nilai peserta didik pada setiap mata pelajaran, guru menggunakan rumus sebagai berikut[8] :
Nilai =   10 (skala 0-100)
Keterangan : ƩX = jumlah skor mentah
ƩS = jumlah soal
Telah dijelaskan dimuka bahwa standar yang sering digunakan dalam menilai hasil belajar dapat dibedakan ke dalam beberapa kategori, yakni :
1.      Standar seratus (0-100),
2.      Standar sepuluh (0-10), dan
3.      Standar empat (1-4), atau dengan huruf (A-B-C-D)
Sedangkan skor baku baik skor z maupun skor T, jarang digunakan. Standar-standar tersebut (z dan T) hanya digunakan untuk keperluan khusus, misalnya untuk menganalisis kecakapan seseorang dibandingkan dengan orang lain dan membandingkan dua skor yang berbeda standarnya.
Konversi nilai bisa dilakukan dari standar seratus ke standar sepuluh dan ke standar empat, atau bisa juga dari standar sepuluh ke standar seratus atau ke standar empat. Dalam konversi nilai digunakan dua cara, yakni cara yang menggunakan rata-rata dan simpangan baku dan cara tanpa menggunakan rata-rata dan simpangan baku :
a.      Konversi tanpa menggunakan nilai rata-rata dan simpangan
Cara ini sangat sederhana, yakni dengan menentukan kriteria sebagai dasar untuk menentukan konversi nilai. Misalnya demgam ,menggunakan kriteria dalam bentuk presentase.
Presentase jawaban (%)
Nilai konversi
Huruf
Standar 10
Standar 4
(90-99)
A
9
4
(80-89)
B
8
3
(70-79)
C
7
2
(60-69)
D
6
1
Kurang dari 60
Gagal
Gagal
Gagal


Nilai 10 bila mencapai 100%

Contoh penggunaannya:
Misalkan kepada peserta didik diberikan tes Fiqih dalam bentuk tes objektif pilihan berganda sebanyak 60 soal. Jawaban yang benar dibenar diberi skorsatu sehingga skor maksimal yang dicapai peserta didik adalah 60. Berdasarkan kriteria di atas, konversi nilai dalam standar huruf, standar sepuluh, dan standar empat adalah sebagai berikut[9] :
Skor mentah
Nilai Konversi
Standar huruf
Standar 10
Standar 4
54-59/60
A
9/10
4
48-53
B
8
3
42-47
C
7
2
36-41
D
6
1
Kurang dari 36
G (gagal)
Gagal
Gagal


Nilai 10 bila mencapai 60

b.      Konversi nilai dengan menggunakan nilai rata-rata dan simpangan baku
Mencari nilai rata-rata atau mean (M) dan Deviasi Standar dalam rangka mengolah skor mentah menjadi nilai huruf dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu jika banyaknya skor yang diolah kurang dari 30, digunakan tabel distribusi frekuensi tunggal; dan jika banyaknya skor yang diolah lebih dari 30,  misalnya sampai 40 atau 50 skor atau lebih, sebaiknya digunakan tabel distribusi frekuensi bergolong. Berikut ini sebuah contoh yang menggunakan tabel distribusi tunggal.
Misalkan seorang guru PBA memperoleh skor mentah dari hasil test yang telah diberikan kepada 20 orang peserta didik sebagai berikut:
73, 70, 68, 68, 67, 67, 65, 65, 63, 62,
60, 59, 59, 58, 58, 56, 52, 50, 41, 40.
Skor mentah itu akan diolah menjadi huruf A, B, C, D, TL dengan menggunakan M dan DS. Untuk itu membuat tabel sebagai berikut:
Langkah-langkah menyusun tabel:
1.         Masukan nama siswa (kedalam kolom satu) dan skor masing masing siswa (kedalam kolom 2), kemudian jumlahkan.kita akan memperoleh .
2.      Menghitung mean dengan membagi jumlah skor itu  dengan N (banyaknya peserta didik yang dites). Jadi, rumus untuk mencari M adalah
                   M = .
3.      Mengisi kolom tiga dengan selisih (deviasi) tiap-tiap skor dari mean (X-M).
4.      Mengisi kolom 4 dengan menguadratkan angka-angka dari kolom 3. Kemudian jumlahkan sehngga memperoleh ∑ (X-M)2.
5.      Langkah terakhir adalah iialah menghitung mean dan DS dengan rmus-rumus sebagai berikut:
                   M =     DS =

TABEL UNTUK MENGHITUNG MEAN DAN DS
Nama Siswa
Skor mentah (X)
(X-M) atau (d)
(X-M)2 atau (d)2
Amrin
73
13
169
Budi
70
10
100
Fiki
68
8
64
Mardi
68
8
64
Popon
67
7
49
Sarman
67
7
49
Jufri
65
5
25
Pairah
65
5
25
Nana
63
3
9
Rini
62
2
4
Suci
60
0
0
Nandar
59
-1
1
Jamhari
59
-1
1
Jibok
58
-2
4
Kusnan
58
-2
4
Ida
56
-4
16
Tutik
52
-8
64
Paimo
50
-10
100
Waluyo
41
-19
361
Paiman
40
-20
400
Jumlah
1201
-
1509

Dari tabel ini kemudian dicari mean dan DS dengan rumus sebagai berikut:
           M =  =  = 60,05 dibulatkan = 60
           DS =  =  == 8,69
Penjabaran menjadi nilai huruf
Dari perhitungan diatas maka kita telah memperoleh mean=60 dan DS= 8,69. Selanjutnya kita dapat menjabarkan skor-skor mentah yang kita peroleh kedalam nilai huruf melalui langkah-langkah sebagai berikut:
a.       Pertama kita menentukan besarnya skala unit deviasi (SUD). Misalnya dalam penjabaran  ini kita menggunakan seluruh jarak range dari kurva normal, yaitu diantara -3DS s.d. +3DS = 6DS. Karena nilai huruf yang akan digunakan adalah A-B-C-D-TL yang berarti 4 unit, dalam hal ini tentukan besarnya SUD = 6 DS:4 = 1,5 DS. Jadi, SUD = 1,5×8,69 = 13,035, dibulatkan =13.
b.      Titik tengah nilai C terletak pada mean = 60 karena C merupakan nilai tengah pada skala  penilaian A-B-C-D-TL. Jadi kita telah mendapatkan SUD= 13 dan titik tengah C = M = 60.
c.       Langkah selanjutnya kita menentukan batas bawah dan batasatas dari masing-masing nilai huruf. Karena titik tengah 60 maka.
1.      Batas bawah C = M – 0,5 SUD
                = 60 – 0,5 × 13 = 53,5
2.      Batas atas C = M + 0,5 SUD
                           = M + 0,5  × 13 = 66,5
3.      Batas bawah D = M - 1,5 SUD
                = M - 1,5  × 13 = 34
4.      Skor dibawah 34 = TL
5.      Batas bawah B = M + 1,5 SUD
                           = M + 1,5  × 13 = 79,5
6.      Skor diatas 79,5 = A
7.      Berdasarkan hasil perhitungan pada langkah c diatas, kita mentransfer skor mentah dari 20 orang peserta didik kedalam nilai huruf sebagai berikut:
a.       Skor 80 keatas = A = tidak ada
b.      Skor 67 - 79,5 =  B = 6 orang
c.       Skor 54 – 66,5 = C = 10 orang
d.      Skor 34 – 53,5 = D = 4 orang
e.       Skor dibawah 34 = TL = tidak ada
Mengolah skor mentah menjadi nilai huruf dengan batas lulus = mean.
Cara lain mengolah skor mentah menjadi nilai huruf ialah dengan menggunakan mean dan DS yang diperoleh dengan membuat tabel frekuensi. Untuk jelasnya, berikut ini kami kemukakan sebuah contoh :
Misalkan seorang guru PBA memperoleh skor dari hasil ujian semester dari 50 orang peserta didik sebagai berikut:
97, 93, 92, 90, 87, 86, 86, 83, 81, 80
80, 78, 76, 76, 75, 74, 73, 72, 72, 71
69, 67, 67, 67, 64, 63 63, 62, 62, 60
58, 57, 57, 56, 56, 54, 52, 50, 47, 45
43, 39, 36, 36, 32, 29, 27, 26, 20, 16
Skor mentah ini akan kita olah menjadi nilai huruf A, B, C, D, TL. Untuk mencari mean dan DS kita susun skor mentah tersebut kedalam tabel frekuensi. (lihat kembali cara menyusun tabel seperti yang telah diuraikan). Kita cari range untuk menentukan besarnya interval dan kelas interval.
R= 97-16= 81
Kelas interval =  + 1 =  +1 =9
Jadi dengan menentukan besar intervalnya 10 maka kita peroleh kelas interval = 9.
TABEL DISTRIBUSI FREKUENSI
Kelas
Interval
F
d
Fd
Fd × d
1
96 – 105
1
4
4
16
2
86 – 95
6
3
18
54
3
76 – 85
7
2
14
28
4
66 – 75
10
1
10
10
5
56 – 65
11
0
0
0
6
46 – 55
4
-1
-4
4
7
36 – 45
5
-2
-10
20
8
26 – 35
3
-3
-9
27
9
16 – 25
3
-4
-12
48


50

11
207

Dari tabel ini kita mencari mean dengan rumus:
+ i
Keterangan:
M= mean sebenarnya yang akan dicari
M’ = mean dugaaan dalam tabel ini
      =  =  = 60,5
I = interval = 10
∑fd = 11
Dengan rumus diatas maka:
M= 60,5 +10  = 60,5 +  = 60, 5 + 2,2 = 62,7= 63
Cara mencari deviasi standard adalah dengan rumus:
DS=
Dari tabel diatas kita dapat menghitung DS sebagai berikut:
DS = 10
      = 10 = 10
      = 10×1,9 = 19
Selanjutnya jika kita akan mengubah skor mentah yang diperoleh menjadi nilai huruf dengan batas lulus = mean caranya adalah sebagai berikut:
Telah ditentukan bahwa batas lulus = mean = 63. Jadi,skor mentah dari 63 keatas kita bagi menjadi nilai huruf A, B, C, D, dan skor dibawah 63 dinyatakan TL. Dengan demikian untuk selanjutnya kita dapat menghitung dengan mudah batas atas dan batas bawah dari masing-masing nilai huruf itu sebagai berikut:
1.      Batas bawah D atau batas lulus = mean = 63
2.      Skor dibawah 63 = TL
3.      Batas atas D = M + 1 SUD = M + 0,75 DS =
         = 63 14,25 = 77 (dibulatkan)
4.      Batas atas C =M + 2 SUD = M + 1,5 DS=
        = 63 + 28,5 = 92 (dibulatkan)
5.      Batas atas B =M + 3 SUD = M + 2,25 DS=
        = 63 + 42,75 = 106 (dibulatkan)
6.      Skor di atas 106 = A
Dengan perhitungan diatas maka hasil kelulusan dari 50 peserta didik tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Yang tidak lulus (TL), skor dibawah 63 = 23 orang
2.      Yang mendapat nilai D, skor 63-77 = 15 orang
3.      Yang mendapat nilai C, skor 78-92 = 10 orang
4.      Yang mendapat nilai B, skor 93-106 = 2 orang
5.      Yang mendapat nilai A, skor diatas 106 = tidak ada

A.    Mengolah skor mentah menjadi nilai 1 – 10.
Seorang guru PBA memperoleh skor mentah dari hasil ujian dengan peserta didik yang berjumlah 50, adapun hasil dari ulangan tersebut adalah sebagai berikut:
16 64 87 36 65 42 43 54 47 51
77 55 68 42 40 47 42 46 45 50
20 57 28 7   44 51 40 39 39 57
28 39 21 48 46 37 41 43 49 71
29 44 34 50 45 35 44 52 56 45
Untuk mengolah skor mentah diatas menjadi nilai 1-10 maka kita harus mencari mean dan DS. Untuk itu skor mentah tersebut kita susun dalam tabel distribusi frekuensi. Langkah-langkah menyusun tabel frekuensi adalah sebagai berikut:
1.      Kita tentukan banyaknya kelas interval dengan jalan:
a.         Mencari range dengan rumus  R=H-L
b.        Bagilah range kedalam interval-interval yang sama sedemikian rupa sehingga jumlah kelas interval antara 6-15atau 11-19. Adapun rumus untuk mencari kelas interval adalah  + 1
2.      Mengisi kolom 2 (kolom interval) didalam tabel yang telah tersedia.
3.      Menghitung jumlah frekuensi tiap interval.
4.      Menentukan deviasi pada lajur d dengan menetapkanmean dugaan (M') dengan angka nol. Untuk menduga letak nol dapat kita pilih pada kelas yang mengandung frekuensi terbanyak.
5.      Mengisi lajur fd.
6.      Mengisi lajur fd × d.
Dari skor ujian ini kita dapat menyusun tabel distribusi frekuensi seperti berikut:
H = 87
L = 7
R = 87 – 7 = 80
Banyaknya kelas interval :  + 1 =  + 1 = 11
TABEL DISTRIBUSI FREKUENSI
Kelas
Interval
F
D
Fd
Fd × d
1
87 – 94
1
6
6
36
2
79 – 86
0
5
0
0
3
71 – 78
2
4
8
32
4
63 – 70
3
3
9
27
5
55 – 62
4
2
8
16
6
47 – 54
11
1
11
11
7
39 – 46
18
0
0
0
8
31 – 38
4
-1
-4
4
9
23 – 30
3
-2
-6
12
10
15 – 22
3
-3
-9
27
11
7 – 14
1
-4
-4
16


50

19
181

Sekarang kita mencari angka rata-rata (mean) dari table di atas. Rumus mean adalah  M = M' + i () Dengan melihat table distribusi frekuensi maka:
M = 42,5 + 8  = 42,5 +3,04 = 45,54
Dari table ini sekarang kita mencari DS rumusnya adalah DS = i kdengan menggunakan rumus tersebut maka  :
DS = 8
      = 8
      = 8
      =8 × 1,89 = 15,12 (dibulatkan) = 15                                  
Setelah menemukan mean dan DS langkah selanjutnya adalah menjabarkan skor mentah yang kita peroleh kedalam nilai 1 – 10 dengan menggunakan rumus penjabaran sebagai berikut:
M + 2,25 DS = 10
M + 1,75 DS = 9
M + 1,25 DS = 8
M + 0,75 DS = 7
M + 0,25 DS = 6
M + 0,25 DS = 5
M + 0,75 DS = 4
M + 1,25 DS = 3
M + 1,75 DS = 2
M + 2,25 DS = 1             
Hasil perhitungan
Penjabaran

45,54 + (2,25 × 15) = 79 (dibulatkan)
Skor 79 keatas = 10

45,54 + (1,75 × 15) = 72 (dibulatkan)
72 – 78 = 9

45,54 + (1,25 × 15) = 64 (dibulatkan)
64 – 78 = 8

45,54 + (0,75 × 15) = 57 (dibulatkan)
57 – 71 = 7

45,54 + (0,25 × 15) = 49 (dibulatkan)
49 – 63 = 6

45,54 - (0,25 × 15) = 42 (dibulatkan)
42 – 56 = 5

45,54 - (0,75 × 15) = 34 (dibulatkan)
34 – 48 = 4

45,54 - (1,25 × 15) = 27 (dibulatkan)
27 – 41 = 3

45,54 - (1,75 × 15) = 19 (dibulatkan)
19 – 33 = 2

45,54 - (2,25 × 15) = 12 (dibulatkan)
12 – 18 = 1


11 kebawah = 0

Dengan penjabaran diatas maka guru dapat langsung memasukkan atau mengubah nilai skor mentah yang diperoleh setiap peserta didik kedalam nilai 1 – 10.
Dengan penjabaran secara statistikdengan membuat tabel distribusi frekuensi dan menggunakan mean dan DS maka dengan bagaimana punhasil tes yang kita peroleh akan menghasilkan nilai diantara 1- 10. Sehingga akan terdapat anak yang memperoleh nilai yang tinggi dan nilai yang terendah,karena penyusunan tabel yang menjadi dasar perhitungan menggunakan skor maksimum dan skor minimum yang benar-benar dicapai oleh kelompok peserta didik yang dites.  

B.       Mengolah skor mentah menjadi skor standar Z
Yang dimaksud dengan skor Z adalah skor yang penjabarannya didasarkan atas unit deviasi standar dari mean. Dalam hal ini mean dinyatakan = 0 (nol). Oleh karena itu, dengan penjabaran skor-skor tersebut dibandingkan dengan rata-rata skor sekelompoknya; apakah ia terletak di atas rata-rata kelompok (mean) atau di bawahnya.
Rumus Z score =

C.                                                                                                                         Mengolah skor mentah menjadi skor standar T
Dengan bersumber pada skor Z seperti telah dibicarakan di muka, banyak pula dikembangkan skor-skor standar lainnya yang dikenal orang sebagai angka skala.
Jenis skor standar yang merupakan angka skala yang telah banyak dikenal orang antara lain ialah skor T. yang dimaksud dengan skor T ialah angka skala yang menggunakan dasar maen = 50 dan jarak tiap deviasi standar (DS) = 10. Di dalam range -3 DS sampai dengan +3 DS, T tersebar dari 20 s.d 80, tanpa bilangan-bilangan minus.
Rumus T score =  50 + 10z
D.   Teknik Analisis Hasil  Penilaian
Model yang banyak digunakan untuk mengolah data hasil evaluasi pembelajaran adalah sebagai berikut:
1.       Tendensi sentral
Salah satu tekhnik analisis data yang banyak digunakan untuk mengolah data evaluasi adalah tendensi  sentral atau ukuran kecenderungan memusat. Ada tip teknik utama yang digunakan untuk mengukur  tendensi sentral yaitu mean, median,dan mode.
2.       Variabelitas
Variabelitas adalah keanekaragaman angka-angka dalam suatu distribusi skor. Variabelitas merupakan  variasi sebaran skor dari mean. Semakin luas penyebaran  angka-angka, semakin besar pula variabelitas distribusinya. Hal itu berarti skor yang ada cenderung heterogen. Sebaliknya, semakin kecil penyebaran angka-angka berarti semakin kecil juga variabelitasnya. Hal itu berarti skor yang ada cenderung homogen. Secara sederhana, ada tiga tekhnik untuk melihat ukuran variabelitas, yaitu jarak sebaran atau range, deviasi rata-rata dan deviasi standar atau simpangan buku. Range dicari dengan mengurangi angka tertinggi dengan terendah.
Rumus Range = (R - Xtertinggi­ - Xterendah).
Penyimpangan angka merupakan selisih antara angka tersebut dengan mean. Rumus untuk mencari deviasi rata-rata adalah sebagai berikut ini:
Devisa Rata-rata =
Keterangan:
X = Skor yang diperoleh
M = Nilai rata-rata
N = Jumlah peserta tes
Dibandingkan range dan deviasi rata-rata, simpangan baku merupakan cara terbaik untuk pengukuran penyebaran. Simpangan baku adalah jarak standar yang terletak diatas dan dibawah mean. Rumus untuk mencari simpangan baku (dari populasi) adalah:
Keterangan:
SD = Simpangan baku
X = Skor uang diperoleh
M = Nilai rata-ratas
3.      Skor standar
Kadang kala untuk kebutuhan menentukan nilai secara cepat tanpa melihat tabel konversi secara keseluruhan, maka dapat dihitung dengan skor z. Banyak manfaat yang bisa diambil dengan menggunakan skor standar z. Skor z merupakan salah satu tekhnik untuk mengetahui posisi testee dalam kelompoknya. Dengan skor z, dapat membandingkan antara skor satu dengan yang lainnya. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut.
Z =

Keterangan:
X = Skor yang diperoleh
M = rata-=rata (mean)
SD = Simpangan baku.
4.      Skor Komposit
Kadang kala, nilai skor akhir siswa, tidak didasarkan pada hasil tes tunggal. Nilai akhir pada bidang studi tertentu merupakan gabungan atau kombinasi dari skor-skor yang diperoleh dari beberapa hasil pengukuran. Bila skor tersebut didasarkan pada beberapa komponen, maka skor akhir dapat diperoleh dengan melakukan penggabungan skor yang disebut dengan skor komposit. Salah satu rumus komposit yang bisa digunakan adalah sebagai berikut.
Skor Komposit :

Keterangan:
b  = Bobot komponen
z   = Skor Z setiap komponen

5.      Penentuan Nilai Akhir
Setelah satu tekhnik analisis yang perlu dipahami adalah tekhnik menentukan nilai akhir. Nilai akhir diperlukan untuk menentukan penguasaan siswa, kelulusan siswa memberikan bimbingan, atau memberikan balikan proses pembelajaran. Untuk menentukan nilai akhir, harus mempertimbangkan beberapa faktor, yaitu faktor pencapaian prestasi, faktor usaha, faktor kebiasaan kerja atau faktor pribadi dan sosial.
Untuk menentukan nilai akhir, ada beberapa rumus yang bisa digunakan. Hal ini disesuaiakan dengan formula yang digunakan oleh lembaga. Berikut ini beberapa formula, yang pernah digunakan disekolah/madrasah.
a.       Nilai akhir diperoleh dengan memperhitungkan nilai tugas (T), ulangan harian (H), dan nilai ulangan umum (U).


 


Keterangan:
N = Nilai akhir
T = Nilai tugas
H = Nilai harian
U = Nilai ulangan umum.









 
BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
1.      Mengolah skor mentah menjadi nilai huruf dengan menggunakan mean (M) dan Deviasi Standar (DS), sedangkan rumus mencari M adalah M = , dan rumus DS adalah    DS = .
2.      Mengolah skor mentah menjadi nilai huruf dengan batas lulus. Rumus mencari M adalah + i  dan cara mencari deviasi standard adalah dengan rumus:
DS=
3.      Konversi skor adalah proses transformasi skor mentah yang dicapai peserta didik ke dalam skor terjabar atau skor standar untuk menetapkan nilai hasil belajar yang diperoleh. Secara tradisional, guru menggunakan rumus sebagai berikut: Nilai =   10 (skala 0-100). Skor mentah itu akan diolah menjadi huruf A, B, C, D, TL dengan menggunakan M dan DS.
  1. Mengolah skor mentah menjadi skor standar Z
Rumus Z score =
  1. Mengolah skor mentah menjadi skor standar T
Rumus T score = 50 + 10z
6.      Model yang banyak digunakan untuk mengolah data hasil evaluasi pembelajaran adalah sebagai berikut:
a.    Ada tip teknik utama yang digunakan untuk mengukur  tendensi sentral yaitu mean, median,dan mode.
b.    Variabelitas adalah keanekaragaman angka-angka dalam suatu distribusi skor. Variabelitas merupakan  variasi sebaran skor dari mean. Semakin luas penyebaran  angka-angka, semakin besar pula variabelitas distribusinya.
c.    Skor standar: Kadang kala untuk kebutuhan menentukan nilai secara cepat tanpa melihat tabel konversi secara keseluruhan, maka dapat dihitung dengan skor z.
d.   Skor komposit: Nilai akhir pada bidang studi tertentu merupakan gabungan atau kombinasi dari skor-skor yang diperoleh dari beberapa hasil pengukuran. Bila skor tersebut didasarkan pada beberapa komponen, maka skor akhir dapat diperoleh dengan melakukan penggabungan skor yang disebut dengan skor komposit.
Rumus :

b  = Bobot komponen
z   = Skor Z setiap komponen
e.    Penentuan Nilai Akhir
Setelah satu tekhnik analisis yang perlu dipahami adalah tekhnik menentukan nilai akhir. Nilai akhir diperlukan untuk menentukan penguasaan siswa, kelulusan siswa memberikan bimbingan, atau memberikan balikan proses pembelajaran. Untuk menentukan nilai akhir, harus mempertimbangkan beberapa faktor, yaitu faktor pencapaian prestasi, faktor usaha, faktor kebiasaan kerja atau faktor pribadi dan sosial.
Rumus :

N     = Nilai akhir
T     = Nilai Tugas
H     = Nilai harian
U     = Nilai ulangan umu
DAFTAR PUSTAKA

Dr. Dimyati dan Drs. Mudjiono, 1999. Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: PT Rineka Cipta.
Drs. Zainal Arifin, M. Pd, 2009. Evaluasi Pembelajaran. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Ngalim purwanto, 2010. Prinsip-prinsip dan teknik evaluasi pengajaran Bandung. PT Remaja Rosdakarya.
Nana Sudjana, 1995. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung :PT Remaja Rosdakarya.
Kunandar, 2007. Guru Professional. Jakarta: Raja Grafindo Persada.


[1] Dr. Dimyati dan Drs. Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran,(Jakarta: PT Rineka Cipta,1999), hal. 218
[2] Drs. Zainal Arifin, M. Pd, Evaluasi Pembelajaran, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2009), hal. 221
[3] Ibid.,hal. 222
[4] Ibid.,hal.223
[5] Ngalim purwanto, Prinsip-prinsip dan teknik evaluasi pengajaran (Bandung. PT Remaja Rosdakarya: 2010) hal. 89

[6] Ibid,.hal 90
[7] Ibid,. Hal 92
[8] Zainal Arifin,, Evaluasi Pembelajaran ...hal.232
[9] Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung :PT Remaja Rosdakarya: 1995, hal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar