Minggu, 16 Juni 2013

METODE PEMBELAJARAN BAHASA ARAB

Bab 1
pendahuluan
A.    Latar belakang
Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa yang telah menyentuh berbagai ranah dunia. Selain sebagai bahasa media ajaran islam, bahasa Arab juga telah berjasa dalam menjunjung tinggi sains dan teknologi, memperkaya khazanah budaya nasional dan media perubahan politik internasional yang semakin menampakkan perananya dewasa ini. Sehingga bahasa Arab mengalami perkembangan yang sangat pesat.

Adapun metode pembelajaran Bahasa Arab dan inovasinya akan menjadi tantangan tersendiri bagi setiap guru bahasa Arab. Oleh karena itu pembelajaran bahasa arab juga menuntut kecerdasan setiap guru untuk memahami aspek yang berkaitan dengan hasil pembelajaran.Yakni dengan menciptakan teknik-teknik baru dalam pembelajaran bahasa arab agar siswa menjadi lebih aktif, terampil, mampu menguasai dan mahir dalam bahasa arab.
Adapun perkembangan pembelajaran bahasa arab ada dipesantren-pesantren dan hampir seluruh perguruan tinggi di Indonesia seperti salah satunya institute agama islam negeri sunan ampel Surabaya yang mana kita berada didalamnya sekarnag ini sudah agak membaik karena terciptanya tehnik-tehnik baru yang telah diterapkan sehingga santri bahkan mahasiswa bisa aktif dan selalu termotifasi untuk belajar bahasa arab.
Kamipun terdorong untuk melakukan analisis pembelajaran bahasa arab khususnya metode-metode pembelajaran bahasa arab berbasisi kompetensi. Apakah dengan diterapkannya beberapa tehnik pembelajaran beserta metode-metode yang ada (mubasyarah, Muhadasah, Insya’ dan qowaid) sudah bisa mencapai hasil belajar bahasa arab yang efektif dan apakah masih membutuhkan tehnik-tehnik baru lagi.

B. Tujuan dan Manfaat
Dari analisis yang kami tuangkan dalam makalah ini bertujuan agar mahasiswa mengetahui teknik-teknik pembelajaran berbasis kompetensi yang lebih efektif sehingga membuat para siswa lebih aktif dalam belajar bahasa arab khususnya yang ada di Pondok Pesantren dan universitas-universitas islam swasta maupun negeri seperti institut agama islam negeri surabaya.




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian kompetensi
Secara definisi kompetensi adalah kemampuan dasar yang dapat dilakukan oleh para siswa pada tahap pengetahuan, keterampilan dan sikap. Kemampuan dasar ini akan dijadikan sebagai landasan melakuakan proses pembelajaran dan penialain terhadap peserta didik. Kompetensi itu merupakan target, sasaran, standar bagaimana yang telah dijelasakan oleh Binyamin.S.Blomm dan Gagne dalam teori teorinya terdahulu[1].
Dari sini kita dapat berpendapat bahwasannya faham dasar akan kompetensi itu sendiri adalah terjadinya suatu keseimbangan dalam sebuah kegiatan belajar mengajar, yaitu keseimbangan antara teoritik dan praktik dan pola pengajaran seimbang 50% teori dan 50% praktik.
Kompetensi merupakan perpaduan antara pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang dikuasai oleh seseorang dalam dirinya untuk menunjang suatu keberhasilan sehingga dapat melakukan perilaku yang kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya. Kompetensi mencakup dalam hal tugas, keterampilan, sikap yang harus dimiliki oleh peserta didik agar dapat melaksanakan tugasnya.
Kurikulum membutuhkan kerja sama yang baik antara pendidikan dan dunia kerja terutama dalam menganalisis kompetensi yang perlu diajarkan kepada peserta didik.[2]
 Beberapa aspek yang terkandung dalam konsep kompetensi :
1.      Pengetahuan ( knowlage)
Yaitu kesadaran dalam bidang kognitif. Seorang pengajar harus mengetahui apa yang dibutuhkan oleh anak didiknya dan bagaimana cara dia menyampaikan pembelajarannya.
2.      Pemahaman ( understanding )
Yaitu kedalam kognitif dan afektif yang dimiliki individu. Seorang pengajar harus mengetahui dan memahami karakter dan kondisi anak didiknya agar tercipta pembelajaran yang efektif dan efisien.
3.      Kemampuan ( skill )
Yaitu sesuatu yang dimiliki individu untuk melakukan tugas atau pekerjaan yang di bebankan kepadanya. Kemampuan seorang pengajar dalam memilih cara pengajaran yang baik agar peserta didik tertarik dan dapat memahami pelajaran tersebut dengan baik.
4.      Nilai ( value )
Yaitu standar prilaku yang diyakini dan telah menyatu dalam diri seseorang. Misalnya, perilaku pengajar dalam pembelajaran, yang meliputi : kejujuran, keterbukaan, dan demokrasi.
5.      Sikap ( attitude )
Yaitu prasaan atau reaksi terhadap sesuatu yang datang dari luar. Misalnya, reaksi terhadap krisis ekonomi.
6.      Minat ( interest )
Yaitu kecenderungan seseorang untuk melakuka suatu perbuatan. Misalnya, minat untuk melakukan atau mempelajari sesuatu.
Kurikulum berbasis kompetensi dapat diartikan sebagai suatu konsep kurikulum yang menekan pada pengembangan kemampuan melakukan tugas-tugas dengan standar performasi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik.[3]
Kurikulum berbasis kompetensi menfokuskan pada perolehan kompetensi dasar tertentu dan pengarahan kegiatan pembelajaran untuk membantu tingkat kompetensi peserta didik. Kurikulum berbasis kompetensi menuntut pengajar yang berkualitas dan profesional agar bisa melakukan kerjasama dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Hubungan kompetensi dengan pembelajaran menunjuk kepada perbuatan yang bersifat rasional dan memenuhi spesifikasi dalam proses belajar.
Terdapat tiga landasan teoritis yang mendasari kurikulum berbasis kompetensi :
1.      Pergeseran dari pembelajaran kelompok kearah pembelajaran individual
2.      Pengembangan konsep belajar tuntas ( mastery learning ) agar dapat mempelajari bahan dengan hasil yang baik
3.      Pendefisinian kembali terhadap bakat.
Hal tersebut memberikan beberapa implikasi terhadap pembelajaan :
1.      Pembelajaran perlu lebih menekankan pada kegiatan individual meski secara klasikal. Tugas diberikan secara individu bukan kelompok
2.      Mengupayakan belajar yang kondusif dengan metode dan media yang bervareasi agar pembelajaran lebih tenang dan menyenangkan
3.      Perlu waktu yang cukup dalam penyelesaian tugas, agar tugas belajar terselesaikan dengan baik
Tiga hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan kurikulum berbasis kompetensi :
1.      Penetapan kompetensi yang akan dicapai
2.      Pengembangan strategi untuk mencapai kompetensi
3.      Evaluasi



B.     Standar kompetensi
Kurikulum berbasi kompetensi merupakan kerangka tentang mata pelajaran yang hatus diketahui, dilakuakan, dimahirkan oleh setiap peserta didik pada setiap tingkatan. Dan kerangka ini disediakan dalam komponen utama yaitu:
1.      Kompetensi dasar
2.      Materi pokok
3.      Indicator
MATERI POKOK
KEMAMPUAN DASAR
(tujuan)
INDIKATOR

 






Mekanisme kemampuan dasar

Dari sini kami dapat menarik suatu kesimpulan bahwasannya kemampuan dasar adalah tujuan pembelajaran dari materi yang akan diberikan kepadda peserta didik sesuai dengan taksonomi B.S. Blomm, Yang mengguanakan kata operasional dalam yang bersifat umum yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan dasar pengetahuan tingkat rendah, menengah, tinggi, yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analilsis, sintesis, dan evaluasi. Dan supaya lebih jelasnya maka bisa kami gambarkan sebagai berikut.






pemahaman
pengetahuan
sintesis
analisis
aplikasi
evaluasi
Pengetahuan tingkat tinggi
Pengetahuan tingkat menengah
Pengetahuan tingkat rendah
 











C.    Bahasa arab di fakultas tarbiyah
Bahasa arab merupakan bahasa yang sudah tidak asing lagi dikalangan umat islam khususnya para santri yang tinggal di pesantern ataupun para mahasiswa yang tinggal di perguruan tinggi atau universitas islam baik negeri maupun swasta. Karena pentinganya hal ini selain bahasa arab sebagai salah satu bahasa pengantar untuk menelaah lebih dalam lagi akan khazanah khazanah islam yang telah diwariskan oleh nabi dan para sahabat dan ulama’ terdahulu.
Bahasa arab adalah bahasa yang sangat penting bagi kita. Karna bahasa arab merupakan salah satu kunci  untuk membuka khazanah-khazanah islam. Menurut Bapak Ali Hasan,[4] Bahasa arab merupakan bahasa yang sangat penting, karena dengan bahasa arab mahasiswa dapat mempelajari agama islam dan bahasa arab adalah bahasa al-quran dan hadits. Oleh karna itu, bahasa arab diterapkan di sekolah, madrasah dan perguruan tinggi yang berbasis islam.
Penerapan bahasa arab disekolah atau madrasah dengan cara menambah pelajaran di luar jam pelajaran. Kemudian penerapan bahasa arab di perguruan tinggi dengan diadakannya program penunjang yang berbeda di setiap Universitas atau Institut Islam yang ada. Contohnya, di IAIN Sunan Ampel Surabaya yang mengadakan program penunjang bahasa arab, seperti: Program Intensive, Unit Pengembangan Bahasa Asing yaitu bahasa arab dan bahasa inggris, seminar, diskusi dan lain-lain.
Di Fakultas Tarbiyah sendiri banyak program yang dapat menunjang bahasa arab mahasiswa yang diadakan oleh bagian Akademik, Senat Mahasiswa fakultas atau Himpunan Mahasiswa Jurusan. Contohnya: Program Intensive, seminar, diskusi, lomba-lomba seperti: pidato dan debat menggunakan bahasa arab. Dari program-program penunjang tersebut dapat meningkatkan bahasa arab mahasiswa di fakultas tarbiyah, karena bahasa arab merupakan suatu kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap mahasiswa.
Pembelajaran bahasa arab di fakultas tarbiyah antara satu jurusan dengan jurusan yang lainnya itu mempunyai perbedaan, dilihat dari segi jurusan. Misalnya, pembelajaran di jurusan Pendidikan Agama Islam yang hanya mempelajari bahasa arab secara umum. Berbeda dengan pembelajaran di jurusan Pendidikan Bahasa Arab yang mempelajari bahasa arab secara lebih mendalam. Dalam pembelajaran bahasa arab, setiap dosen tidak lepas dari empat kemampuan untuk menerapkannya, yaitu: kemampuan membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara. Dari keempat kemampuan itu, setiap dosen pasti menemui kendala-kendala dalam penerapannya. Contoh kendala tersebut adalah tidak semua mahasiswa dapat berbicara bahasa arab dengan baik dan tidak semua mahasiswa menyukai bahasa arab, karena bagi mereka bahasa arab itu sulit, bahasa kuno dan peluang untuk bekerja sangat sedikit. Mereka lebih termotivasi dengan bahasa inggris, yang mereka anggap bahasa internasional dan lebih banyak peluang dalam pekerjaan.
Bahasa arab di jurusan pendidikan bahasa arab sangatlah ditekankan, dengan diterapkannya berbicara bahasa arab pada hari senin dan selasa dan kegiatan-kegiatan yang menggunakan bahasa arab oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan dan juga pada saat mengikuti mata kuliah yang di wajibkan berbahasa arab, seperti: Muhadatsah, Shorof, dan Istima’. pada semester lima di jurusan ini dikembangkan menjadi dua prodi, yaitu: tarjamah dan pariwisata. Meskipun adanya perbedaan program studi, tetepi pada saat lulus diharapkan masih dapat mengajar bahasa arab dengan metode-metode yang sesuai dengan pembelajaran bahasa arab.
Di fakultas tarbiyah institut agama islam negeri sunan ampel Surabaya bahasa arab menjadi lebih ditekankan terlebih setelah terbentuknya sebuah jurusan yang memperdalam akan bahasa arab itu sendiri yang kita kenal dengan sebutan jurusan pendidikan bahasa arab. Selain bahasa inggris bahasa arab juga sebagai salah satu tolak ukur bagi mahasiswa secara umum dan itu terlihat dengan adanya kelas-kelas intensif yang sering kita temui di pagi hari setiap senin sampai kamis. Dari sini kita bisa melihat akan pentingnya sebuah penguasaan bahasa asing khususnya bahasa arab dikalangan mahasiswa perguruan tinggi islam di Indonesia.
Dalam hal ini, fakultas tarbiyah khususnya dalam progam studi pendidikan bahasa arab lebih menekankan kepada pemakaian cara-cara atau metode yang berbasis kompetensi sehingga dapat mencetak kader-kader umat yang bisa berbahasa aktif bukan hanya pasif yang bisa memahami akan tetapi di suatu sisi ia tidak bisa mengungkapkan segala argumentasi yang mau ia utarakan kepada orang disekitarnya.
Metode mubasyaroh adalah salah satu metode yang paling dominan yang sering dipakai di fakultas tarbiyah dalam mengajarkan suatu kegiatan belajar mengajar dalam materi bahasa arab, yang mana seorang peserta didik dituntut untuk memaparkan dalam segala aspek yang dapat menunjang akan terciptanya suatu pengajaran yang terarah kepada tujuan utama suatu lemmbaga dalam pengajaran bahasa asing khususnya bahassa arab. Ada juga yang berpendapat bahwasannya metode yang diapakai adalah metode deductive method atau dalam bahasa kita lebih sering  dikenal dengan sebutan metode learning by doing,[5] yang mana kesemuannya berujung kepada aktifasi sang peserta didik dalam mempelajari dan memahami bahasa arab itu sendiri, dan dari situlah akan muncul suatu kebiasaan yang kesemuannya akan membuatnya terbiasa dengan apa yang dapat ia serap dan sejauh apa yang dapat dipahami dalam bentuk aplikasi yang aktif.

D.    Metode-metode pembelajaran bahasa arab
Ibnu khaldun berkata, “Sesungguhnya pengajaran itu merupakan profesi yang membutuhkan pengetahuan, keterampilan, dan kecermatan karena ia sama halnya dengan pelatihan kecakapan yang memerlukan kiat, strategi dan ketelatenan, sehingga menjadi cakap dan professional.”[6] Penerapan metode pengajaran tidak akan berjalan dengan efektif dan efisien sebagai media pengantar materi pengajaran bila penerapannya tanpa didasari dengan pengetahuan yang memadai tentang metode itu. Sehingga metode bisa saja akan menjadi penghambat jalannya proses pengajaran, bukan komponen yang menunjang pencapaian tujuan, jika tidak tepat aplikasinya. Oleh karena itu, penting sekali untuk memahami dengan baik dan benar tentang karakteristik suatu metode.
Secara sederhana, metode pengajaran bahasa Arab dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu: pertama, metode tradisional/klasikal dan kedua, metode modern. Metode pengajaran bahasa Arab tradisional adalah metode pengajaran bahasa Arab yang terfokus pada “bahasa sebagai budaya ilmu” sehingga belajar bahasa Arab berarti belajar secara mendalam tentang seluk-beluk ilmu bahasa Arab, baik aspek gramatika/sintaksis (Qowaid nahwu), morfem atau morfologi (Qowaid as-sharf) ataupun sastra (adab). Metode yang berkembang dan masyhur digunakan untuk tujuan tersebut adalah Metode qowaid dan tarjamah. Metode tersebut mampu bertahan beberapa abad, bahkan sampai sekarang pesantren-pesantren di Indonesia, khususnya pesantren salafiyah masih menerapkan metode tersebut. Hal ini didasarkan pada hal-hal sebagai berikut: Pertama, tujuan pengajaran bahasa arab tampaknya pada aspek budaya/ilmu, terutama nahwu dan ilmu sharaf. Kedua kemampuan ilmu nahwu dianggap sebagai syarat mutlak sebagai alat untuk memahami teks atau kata bahasa Arab klasik yang tidak memakai harakat, dan tanda baca lainnya. Ketiga, bidang tersebut merupakan tradisi turun temurun, sehingga kemampuan di bidang itu memberikan “rasa percaya diri (gengsi) tersendiri di kalangan mereka”. Metode pengajaran bahasa Arab modern adalah metode pengajaran yang berorientasi pada tujuan bahasa sebagai alat. Artinya, bahasa Arab dipandang sebagai alat komunikasi dalam kehidupan modern, sehingga inti belajar bahasa Arab adalah kemampuan untuk menggunakan bahasa tersebut secara aktif dan mampu memahami ucapa atau ungkapan dalam bahasa Arab. Metode yang lazim digunakan dalam pengajarannya adalah metode langsung (tariiqah al – mubasysyarah). Munculnya metode ini didasari pada asumsi bahwa bahasa adalah sesuatu yang hidup, oleh karena itu harus dikomunikasikan dan dilatih terus sebagaimana anak kecil belajar bahasa.
1. Macam-macam metode pembelajaran
Metode pembelajaran atau metode mengajar merupakan salah satu cara yang digunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa saat berlangsungnya pengajaran. Dalam metode pengajaran seorang guru diharapkan untuk bisa menhidupkan suasana kelas atau menumbuh kegiatan belajar siswa. Tugas guru yaitu memilih metode yang tepat untuk menciptakan proses pembelajaran yang baik.
Menurut Nana Sujana metode pembelajaran yang baik yaitu, metode pembelaran yang bervariasi atau kombinasi dari beberapa metode pembelajaran. Seperti penggabungan metode ceramah dengan tanya jawab dan tugas, ceramah diskusi dan tugas.[7]
Adapun macam-macam metode pembelajaran yaitu:
a)      Metode Ceramah
Metode ceramah yaitu metode yang digunakan seorang guru, yang mana guru menyampaikan hal-hal menarik antusias siswa untuk belajar. Sedangkan seorang murid hanya menjadi pendengar aktif. Metode ceramah terkadang menjadi metode yang kurang efektif sebab siswa hanya dituntut mendengar. Kurang adanya pola komunikasi antar murid dan guru[8].
Seperti yang dikemukakan Winarno Surachmad M. Ed,yang dimaksud metode ceramah sebagai metode pengajaran ialah penerangan dan penuturan secara lisan oleh guru terhadap kelasnya. Selama berlangsungnya ceramah, guru bisa menggunakan alat-alat pembantu seperti gambar-gambar bagan, agar uraian metode jadi lebih jelas. Tetapi metode utama dalam perhubungan guru dengan murid-muridnya adala berbicara.
Sedangkan peranan murid manakala diterangkan guru dengan dengan metode ceramah ini, agar murid-murid dapat mencatat apa saja yang diterangkan dari guru yang dianggap penting dan juga pokok.
Dengan sifatnya metode ceramah yang demikian maka biasanya metode ceramah dilaksanakan apabila:
1)      Guru akan menyampaikan fakta-fakta atau kenyataan atau pendapat-pendapat di mana tidak ada bahan bacaan yang menerangkan fakta-fakta tersebut.
2)      Guru harus menyampaikan fakta kepada murid yang jumlah besarnya,  sehingga metode lain tak mungkin dipakai.
3)      Guru menghendaki berbicara dengan menggelora semangat agar murid terangsang untuk mengerjakan tugas dari guru atau mengembangakan apa yang mereka dapat dari proses pembelajaran.
4)      Guru akan menyimpulkan pokok penting yang telah dipelajari agar murid-murid mudah memahami semua keterangan dari uraian guru.
5)      Guru akan memperkenalkan hal-hal baru dalam rangka pembelajran yang baru.
b)      Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab atau metode komunikasi antar guru dan murid dengan guru mempertanyakan kepada murid berkenan dengan materi-materi sebelumnya pernah dibahas, dan murid menjawab pertanyaan  guru atau sebaliknya guru menjawab pertanyaan murid.[9]
Metode ini baik digunakan untuk mengulas pelajar yang telah lalu. Ini metode sangat penting dalam pembelajaran. Manakala murid lupa dengan pembelajaran lalu dengan proses tanya jawab murid akan mengingat-ngingat pembelajaran lalu.
Tanya jawab tak harus langsung dari murid bertanya kepada guru. Namun bisa juga antar murid dan murid dengan diadakan diskusi di kelas. Di samping efektif  menjadikan murid berfikir mendalam. Kondisi kelas yang semula suram menjadi berapi-api, dengan sesi-sesi tanya jawab dan beradu argumen.
c)      Metode Diskusi
Metode diskusi merupakan interaksi antara siswa dengan siswa atau siswa dengan guru untuk menganalisis, memecahkan masalah, menggali atau memperdbatkan topik permasalahan tertentu.
Kebanyakan metode ini dipergunakan oleh mahasiswa dengan mahasiswa atau sebaliknya mahasiswa dengan dosen. Saat sedang proses perkuliahan metode ini mutlak digunakan manakala presentasi. Seorang mahasiswa menguraikan makalahnya dan mahasiswa lainya mencoba menyimak dan mengkritisi apa yang dibahas oleh pemakalah.
Metode diskusi ini tepat digunakan apabila menghadapi masalah kelompok, belajar mengidentifikasi dan memecahkan masalah serta mengambil sebuah keputusan. Namun di sisi lain metode  diskusi ini mempunyai keterbatasan yaitu: menyita waktu yang cukup lama mewajibkan para siswa/mahasiswa mengetahui latar belakang masalah tersebut atau inti permasalahan dan sangat merugikan  bagi siswa/mahasiswa yang malu untuk berbicara.[10] Dengan metode diskusi ini para siswa lebih bisa diskriminasi, toleransi dalam memecahkan masalah.
d)     Metode  Pembelajaran Terprogram
Metode pembelajaran terprogram identik dengan menggunakan bahan pengajaran yang sudah disiapkan secara khusus.
Metode ini berbasis pada spesifikasi bahasan dengan patokan pada bahan khusus untuk memperinci matari pembelajaran, yang dengan ini para siswa mendapatkan kebebasan penuh untuk belajar sesuai dengan kecepatan pemahamannya masing-masing. Metode ini baik digunakan apabila kurang mendapatkan interaksi sosial, pembelajaran formal, mempermudah siswa belajar dalam waktu yang diinginkan.
e)      Metode Deduktif
Metode deduktif  ialah metode yang mengajarkan beberapa teori kemudian langsung pada penerapannya. Metode dari mulai pembahasan umum sampai pada yang khusus. Biasanya metode ini sering digunakan pada pengajaran keagamaan yang bersangkutan dengan praktek peribadatan yang sangat memerlukan praktek secara real atau nyata, sperti wudhu, sholat, dan haji.
f)        Metode Induktif
Pelajaran dengan dengan metode ini mengutamakan siswa untuk berfikir, yaitu siswa diberi beberapa masalah untuk diselesaikan atau dicari penyelesaiannya. Metode ini mengutamakan siswa agar terwujud kemandirian dalam pemecahan masalah-masalah.

Dari keenam metode pembelajaran diatas hanyalah sebagian kecil yang diambil dari berbagai macam metode pembelajaran. Berdasarkan beberapa metode yang telah dipaparkan di atas mengesimpulkan metode yang serasi dengan pembelajaran berbasis kompetensi dalam pengembangan bahasa arab, yaitu: dengan menerapkan metode diskusi dengan bahasa pengantar bahasa arab memungkinkan siswa untuk memaksa kemauan siswa berbicara bahasa arab yang berujung pada kebiasaan. Sampai metode diskusi telah berjalan efektif. Guru diharap mampu menerapkan metode deduktif dengan uraian bab-bab dalam gramatika arab yang lalu diterapkan dalam berbicara yang benar menurut kaidah yang berlaku.
  
E.     Pembelajaran bahasa arab berbasis kompetensi
Metode langsung (al Thariiqatu al Mubaasyarah) yang mana Penekanan pada metode ini adalah pada latihan percakapan terus-menerus antara guru dan peserta didik dengan menggunakan bahasa Arab tanpa sedikitpun menggunakan bahasa ibu, baik dalam menjelaskan makna kosa kata maupun menerjemah, (dalam hal ini dibutuhkan sebuah media). Perlu menjadi bahan revisi disini adalah bahwa dalam metode langsung, bahasa Arab menjadi bahasa pengantar dalam pengajaran dengan menekankan pada aspek penuturan yang benar ( al – Nutqu al – Shahiih), oleh karena itu dalam aplikasinya, metode ini memerlukan hal-hal berikut;
1.      Materi pengajaran pada tahap awal berupa latihan oral (syafawiyah)
2.      Materi dilanjutkan dengan latihan menuturkan kata-kata sederhana, baik kata benda ( isim) atau kata kerja ( fi’il) yang sering didengar oleh peserta didik.
3.      Materi dilanjutkan dengan latihan penuturan kalimat sederhana dengan menggunakan kalimat yang merupakan aktifitas peserta didik sehari-hari.
4.      Peserta didik diberikan kesempatan untuk berlatih dengan cara Tanya jawab dengan guru/sesamanya.
5.      Materi Qiro’ah harus disertai diskusi dengan bahasa Arab, baik dalam menjelaskan makna yang terkandung di dalam bahan bacaan ataupun jabatan setiap kata dalam kalimat.
6.      Materi gramatika diajarkan di sela-sela pengajaran,namun tidak secara mendetail.
7.      Materi menulis diajarkan dengan latihan menulis kalimat sederhana yang telah dikenal/diajarkan pada peserta didik.
8.      Selama proses pengajaran hendaknya dibantu dengan alat peraga/media yang memadai. Penutup Sebagai penutup, bahwa alur makalah ini lebih menekankan tentang pentingnya: Seorang guru (pendidik) sebaiknya memahami prinsip – prinsip dasar pengajaran bahasa Arab diatas sebagai bahasa asing dengan menggunakan metode yang memudahkan peserta didik dan tidak banyak memaksakan peserta didik ke arah kemandegan berbahasa. Adapun bagi seorang siswa, bahwasanya belajar bahasa apapun, semuanya membutuhkan proses, banyak latihan dan banyak mencoba.
Adapun kegitan Belajar mengajar Bahasa Arab Berbasis kompetensi di fakultas Tarbiyah, dalam proses belajar-mengajar dosen ataupun guru sebagai tenaga professional dibidang pendidikan. Disamping itu, mereka harus memahami hal-hal yang bersifat filosofis dan konseptual dan harus mengetahui dan melaksanakan hal-hal yang bersifat teknis, yaitu mengelola dan melaksanakan interaksi belajar mengajar serta mengkomunikasikan program itu kepada anak didik. Disamping itu, mahasiswa juga berperan aktif dalam proses belajar mengajar yang berbasis kompetensi. Bagaimana proses belajar mengajar yang berbasis kompetensi?. Dalam proses ini mahasiswalah yang aktif dalam mengembangkan pola fikirnya. Dosen ataupun guru hanya memberikan pengarahan serta memberikan sarana untuk memancing kemampuan seorang siswa. Mahasiswa juga dituntut aktif diluar kelas, dalam artian siswa mampu mendapat kemampuan serta pengetahuan selain yang diberikan guru atau dosen.
      Suatu proses belajar-mengajar dikatakan baik, bila proses tersebut dapat membangkitkan kegiatan belajar yang efektif. Masalah yang menetukan bukanlah metode atau prosedurnya, bukan kolot atau modernnya pengajaran. Namun, ukuran suksesnya belajar-mengajar adalah hasilnya. [11]
Dalam proses belajar-mengajar bahasa arab yang efektif pada fakultas tarbiyah  dalam metode ini adalah mahasiswa mampu dan aktif dalam mendengar, membaca, menulis serta berbicara bahasa arab. Selain itu mahasiswa juga aktif dalam mengadakan kajian-kajian kebahasa arab. Sebagai mahasiswa, kita juga harus mempunyai saran dan prasarana untuk menunjang proses belajar mengajar seperti halnya kamus, serta buku-buku pegangan untuk dijadikan pedoman dalam belajar.
Dalam ilmu kebahasa araban terdapat banyak ilmu untuk mempelajarinya, dengan harapan mahasiswa dapat mengerti secara rinci dan mendalam tentang bahasa arab yang sesungguhnya. Diantara ilmu-ilmu itu adalah sebagai berikut:
1.      Linguistik teoritis (linguistic murni), yaitu ilmu yang membahas tentang ilmu bunyi (fonetic), ilmu shorof (morfologi), ilmu nahwu (sintaks), dan ilmu makna (semantic).
2.      Linguistic praktis (terapan), yaitu ilmu lanjutan yng membahas hasil;hasil kajian dari linguistic murni. Di sini teori-teori yang ada linguistic murni berusaha dibahas dengan cara menyandingkan linguistic murni dengan \bidang studi lain. Misalnya, Komparasi ilmu social dan ilmu bahasa melahirkan sosio linguistic.
3.      Ilmu Fonetik adalah ilmu bunyi yang membahas tentang bunyi bahasa dengan tidak mempertimbangkan makna yang terkandung oleh bunyi. Bunyi dipelajari sebagai suatu gejala alami, bukan sebagai alat komunikasi.
4.      Fonetik Artikulasi adalah ilmu bunyi yang secara spesifik membahas proses pengucapan atau pengeluaran bunyi, output suara (Makhroj), sifat suara dan tingkatannya.
5.      Fonetik Akustik adalah ilmu bunyi yang membahas perpindahan suara di udara yang keluar dari mulut pembicara ke telinga pendengar.
6.      Fonetik Auditori adalah ilmu bunyi yang secara khusus membahas hal-hal yang terkait dengan telinga pendengar sejak proses penerimaan suara dari gelombang udara, proses masuknya suara kedalam telinga hingga kondisi pendengar merespon pesan yang diterimanya.
7.      Fonologi adalah ilmu bunyi yang membahas tentang bunyi bahasa tertentu dengan mempertimbangkan fungsi dan maknanya. Misalnya, idghom, tekanan, intonasi, panjang pendek, waqof dan semua ini menjadi materi utama dalam fonologi.
8.      Morfologi adalah ilmu shorof yang membahas klasifikasi morfem, macam-macamnya, makna dan fungsinya.
9.      Sintaks atau Ilmu Nahwu adalah ilmu yang membahas seputar hukum dan kedudukan kata yang terdapat didalam kalimat atau teks, pembagian kalimat dan sebagainya.
10.  Semantik adalah ilmu yang membahas tentang sifat-sifat dari symbol bahasa dan mengkaji makna yang ada pada symbol tersebut dari aspek relasi makna dengan struktur bahasa, perkembangan makna, macam-macam makna dan sebagainya.
11.  Vocabulary adalah ilmu yang membahas dinamika kata dilihat dari aspek perkembangan dan perubahan makna kata, jumlah kata, kata yang terpakai dan kata yang diabaikan, rumpun bahas atertentu dan sebagainya.
12.  Leksikologi adalah ilmu yang membahas makna-makna leksikal yang terdapat dalam sebuah kamus, perkembangan kata, perubahan makna kata, dan sebagainya.
13.  Linguistik Historis adalah ilmu yang memabahas kronologi/peristiwa perkembangan kata dan maknanya.
14.  Dialektologi adalah ilmu yang membahas ragam dialak yang digunakan para penutur sebuah bahasa.
15.  Linguistic Matematis adalah ilmu yang berfungsi menganalisis materi bahasa dengan menggunakan teori-teori ilmu matematika dan statistic.
16.  Linguistic Komparatif adalah ilmu yang mempelajari fenomena unsure bahasa yang utama (fonem, morfem,sintaks dan semantik) dengan cara membandingkan keempat aspek tersebut.
17.  Geolinguistik adalah ilmu yang mempelajari beberapa bahasa dan dialeknya,lalu mengklasifikasikannya berdasarkan letak bahasa secara geografis.
18.  Sosiolinguistik adalah ilmu yang mempelajari tentang dialek-dialek sosial atau strata bahasa yang disesuaikan dengan tingkat sosial yang ada dalam masyarakat bahasa.[12]
Ø  Visualisasi proses belajar-mengajar yang efektif yaitu sebagai berikut:

Instrumental input/ masukan alat


2
 

Proses pengajaran
Hasil akhir
Hasil langsung
Raw input/ masukan mentah
                    1                                         4                                 5                             6              



Lingkungan
3
            Keterangan:
1.      Masukan mentah: siswa/ subjek belajar
2.      Masukan alat / instrumental input terdiri: tenaga, fasilitas, kurikulum, system administrasi, dan lain-lain
3.      Lingkungan, termasuk keluarga, masyarakat, sekolah
4.      Proses mengajaran, merupakan proses interaksi antara unsure raw input, instrumental input dan juga pengaruh lingkungan.
5.      Hasil langsung: merupakan tingkah laku siswa setelah belajar melalui proses belajar-mengajar, sesuai dengan materi yang di peklajarinya.
6.      Hasil akhir: merupakah sikap dan tingkah laku siswa setelah ada di dalam masyarakat.[13]

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

1.      kompetensi adalah kemampuan dasar yang dapat dilakukan oleh para siswa pada tahap pengetahuan, keterampilan dan sikap. Kemampuan dasar ini akan dijadikan sebagai landasan melakuakan proses pembelajaran dan penialain terhadap peserta didik.
2.      Kurikulum berbasi kompetensi merupakan kerangka tentang mata pelajaran yang hatus diketahui, dilakuakan, dimahirkan oleh setiap peserta didik pada setiap tingkatan. Dan kerangka ini disediakan dalam komponen utama yaitu:
       Kompetensi dasar, Materi pokok dan Indicator.
3.      Di fakultas tarbiyah institut agama islam negeri sunan ampel Surabaya bahasa arab menjadi lebih ditekankan terlebih setelah terbentuknya sebuah jurusan yang memperdalam akan bahasa arab itu sendiri.
4.      Metode-metode yang digunakan dalam pembelajaran, diantaranya yaitu: metode ceramah, metode tanya jawab, metode diskusi, metode terperogram, metode deduktif dan induktif.
5.      Metode langsung (al Thariiqatu al Mubaasyarah) yang mana Penekanan pada metode ini adalah pada latihan percakapan terus-menerus antara guru dan peserta didik dengan menggunakan bahasa Arab tanpa sedikitpun menggunakan bahasa ibu, baik dalam menjelaskan makna kosa kata maupun menerjemah, (dalam hal ini dibutuhkan sebuah media).



DAFTAR PUSTAKA

Sardiman, A.M. 1986. Interaksi dan Motifasi Belajar Mengajar. Jakarta: CV. Rajawali
Suwarno, Wiji. 2006. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Yamin, Martinis. 2005. Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi. Cipayung: Gaung Persada Prees
Suryosubroto. 1997. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: PT Rineka Cipta
 Pasty M. Lingbown and Nina Spada. 2006. How Language are Learned. China: Oxford University Press
Wawancara Pribadi dengan Ali Hasan, pada tanggal 4 Desember 2011


[1] Martinis Yamin, Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi,(Cipayung:Persada Pres,2005), h. 128
[2] Wiji suwarno, Dasar-dasar ilmu pendidikan, (Jogjakarta: Ar-ruzz Media, 2006), h. 84
[3] Ibid, hal. 95
[4] Wawancara pribadi dengan Ali Hasan, pada tanggal 4 Desember 2011
[5] Lingbown dan  Nina Spada, how Language are learned,(China;Oxford University Press,2006)
[6] Martinis yamin, strategi pembelajaran bebbasis kompetensi,(Cipayung:Persada Pres,2005),Hal. 127
[7]  B. Suryosubroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah,( Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1997), hal. 15
[8] Ibid Hal: 75

[9] Martinis Yamin, Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi, (Cipayung: Persada Press, 2005), h. 67-68
[10] Ibid, h. 69-70
[11]  Sardiman, Intraksi dan Motivasi Belajar Mengajar,(Cet.1;Jakarta: CV. Rajawali,1996),h.161
[12] Taufiqurrochman,Leksikologi Bahasa Arab, (Cet.1;Malang:UIN-Malang Press,2008),h. 9
[13] Sardiman,Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar,(Cet.1;Jakarta:CV.Rajawali,1986),h.50

5 komentar: